BOGOR, sultengtoday.id -Sekretaris Jenderal DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muh. Hasanuddin Wahid memaparkan secara menyeluruh grey zone strategy (strategi zona abu-abu) yang diterapkan Tiongkok di Laut China Selatan.
Cak Udin -sapaan karib Hasanuddin Wahid- menguraikan, grey zone strategy merupakan strategi yang diterapkan Tiongkok dalam kondisi di antara konflik terbuka dan damai di wilayah Laut China Selatan (LCS).
Hal ini kata Cak Udin menimbulkan berbagai dampak operasional, yang signifikan terhadap keamanan dan pertahanan Indonesia.
Cak Udin merumuskan kerangka strategi pertahanan, yang dapat diimplementasikan Indonesia dalam menghadapi ancaman China grey zone strategy tersebut.
Strategi ini mengedepankan pendekatan multidimensi yang mengintegrasikan aspek militer, diplomasi, intelijen, serta kerja sama regional, guna memperkuat posisi Indonesia di wilayah LCS.
“Melalui penelitian ini, saya berharap Indonesia dapat lebih siap dan sigap dalam menghadapi tantangan grey zone yang semakin kompleks, khususnya dalam menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional di perairan strategis ini,” ujar Cak Udin.
Cak Udin mengupas ancaman grey zone di Laut China Selatan dengan menggunakan beberapa teori utama.
Pertama, teori Asymmetric Warfare yang menjelaskan tentang konflik yang tidak seimbang, dan bagaimana pihak dengan sumber daya lebih sedikit dapat menggunakan strategi tertentu untuk menghadapi pihak yang lebih kuat.
Kedua, teori Power dari Joseph Nye yang menyoroti konsep kekuatan lunak (soft power), kekuatan keras (hard power), dan kekuatan cerdas (smart power) dalam hubungan internasional.
Ketiga, teori strategi pertahanan yang memberikan kerangka kerja dalam merancang langkah-langkah pertahanan efektif.
“Saya juga menggunakan teori Asymmetric Defence Strategy sebagai landasan praktis untuk merumuskan strategi pertahanan Indonesia dalam menghadapi taktik grey zone yang digunakan oleh China,” urainya.
“Sejauh ini belum ada satupun penelitian dari aspek teoritik yang mengangkat China grey zone strategy yang melakukan pengukuran tingkat dan jenis ancaman. Penelitian yang ada masih berfokus pada pendeskripsian apa saja operasi grey zone tanpa membahas strategi komprehensif untuk menangkalnya,” ujar Cak Udin saat memaparkan disertasi, dalam sidang promosi doktor terbuka program studi S3 Ilmu Pertahanan, di Universitas Pertahanan (Unhan) RI.
Merespon penjelasan Cak Udin, Ketua Sidang, Laksamana Muda TNI Dr. Bambang Irwanto, M.Tr. (Han), CHRMP, di aula kampus Unhan Sentul, Bogor menegaskan, setelah mendengarkan keterangan dan pertimbangan para penguji serta nilai yang telah diberikan, bahwa Muh. Hasanuddin Wahid dinyatakan lulus sebagai doktor Ilmu Pertahanan Unhan yang ke-72.
Dalam kesempatan itu, Cak Udin berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Strategi Pertahanan Indonesia dalam Menghadapi China Grey Zone Strategy di Kawasan Laut China Selatan Guna Mendukung Pertahanan Negara”.
Keberhasilan Cak Udin ini menjadi langkah penting dalam pengembangan kajian pertahanan nasional yang adaptif terhadap dinamika ancaman di kawasan Asia Tenggara.
Pemerintah dan institusi pertahanan diharapkan dapat memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai acuan kebijakan strategis ke depan.**
editor: moh. habil masri
