PALU, Sulteng Today – Sulawesi Tengah mencatatkan diri sebagai daerah yang memiliki perkebunan sawit terluas di Pulau Sulawesi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2024 luas perkebunan sawit di Sulteng mencapai 148 ribu hektar lebih, disusul Sulawesi Barat seluas 146 ribu hektar lebih, Sulawesi Tenggara 61 ribu hektar lebih, Sulawesi Selatan 55 ribu hektar lebih dan Gorontalo 14 ribu hektar lebih. Sulawesi Utara sama sekali tidak memiliki kebun sawit.
Dengan luasan yang cukup signifikan, tidak mengherankan bila Pemerintah Provinsi Sulteng berharap, agar industri sawit bertransformasi menuju digitalisasi, dengan menggunakan teknologi seperti Internet of Things (IoT), blockchain, dan sistem informasi geospasial yang diyakini, akan memperkuat rantai pasok dan meningkatkan daya saing produk sawit Indonesia.
“Digitalisasi bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan. Dengan sinergitas antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat, Sulawesi Tengah bisa menjadi poros sawit berkelanjutan di Indonesia,” jelas Gubernur Sulteng Anwar Hafid dalam sambutan pada acara pembukaan Celebes Forum I Tahun 2025, yang dilaksanakan di Hotel Best Westrn Plus Coco, Kota Palu, Rabu, 22 Oktober 2025.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Sulawesi.
Dalam sambutan yang dibacakan Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Provinsi Sulteng, Dr. Fahruddin, S.Sos, M.Si tersebut, Gubernur Anwar Hafid optimistis, Sulteng akan menjadi pusat industri sawit terbesar di masa depan.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum GAPKI Eddy Martono menyampaikan bahwa industri kelapa sawit tidak hanya menjadi penyetor devisa negara tertinggi selain migas, tapi juga penyerapan tenaga kerja bagi lebih dari 16 juta orang.
“Ini industri yang berkelanjutan dan menyerap tenaga kerja jadi tolong daerah mensupport industri ini,” ujarnya tentang sumbangsih sawit bagi perekonomian.
Sejalan dengan itu, ada 4 isu yang dibedah dalam Celebes Forum yaitu : penerapan digitalisasi sawit; pentingnya sistem sertifikasi; regulasi dan tata kelola, dan dukungan pemerintah daerah bagi industri sawit berkelanjutan.**
editor: moh. habil masri
