Ekspor Durian Beku Sulteng ke Tiongkok Mencapai Rp377,5 Miliar

Ekobis, Headline270 Dilihat

PALU, Sulteng Today – Durian beku menjadi salah satu komoditi ekspor andalan Provinsi Sulawesi Tengah.

Sejak Januari hingga April 2026 volume ekspor durian beku dari Sulawesi Tengah ke Tiongkok mencapai 4.077 ton dengan nilai sebesar Rp377,5 miliar.

Kabar gembira tersebut diungkapkan Gubernur Sulteng, H. Anwar Hafid saat menerima kunjungan kerja Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin), H. Abdul Kadir Karding, S.Pi., M.Si., di Ruang Rapat Polibu, Kantor Gubernur Sulawesi Tengah, Selasa, 26 Mei 2026.

Gubernur Anwar Hafid menegaskan, Sulawesi Tengah merupakan salah satu daerah penghasil durian terbesar di Indonesia dengan potensi besar menembus pasar internasional.

Bahkan Bupati Kabupaten Morowali dua periode itu menyebutkan, bahwa Sulawesi Tengah menuju raja durian dunia.

Pasar Tiongkok khususnya Hainan kata Gubernur Anwar Hafid, memiliki ketertarikan besar terhadap komoditas kelapa dan durian asal Sulawesi Tengah.

Sejauh ini, Gubernur Anwar Hafid belum membuka kepada publik, berapa jumlah anggaran yang digelontorkan untuk mendukung rencana menjadikan Sulteng sebagai raja durian dunia.

Kepala Badan Karantina Indonesia, Abdul Kadir Karding, menegaskan bahwa Barantin kini mengusung paradigma baru, dari sekadar “penjaga pintu” menjadi akselerator ekonomi nasional.

Menurutnya, Badan Karantina Indonesia tidak hanya menjalankan fungsi perlindungan sumber daya hayati, tetapi juga memiliki peran penting dalam pengendalian keamanan dan mutu pangan guna mendukung akses pasar global.

“Barantin ingin mendorong percepatan ekspor-impor perdagangan melalui penerapan standar dan protokol karantina yang harus dipenuhi untuk menembus pasar internasional,” katanya.

Ia menekankan pentingnya kepatuhan terhadap standar karantina dan SOP ekspor guna menjaga kualitas komoditas unggulan Sulawesi Tengah agar mampu bersaing di pasar global.

“Kualitas durian dan kelapa Sulawesi Tengah menjadi daya tarik tersendiri bagi pasar Tiongkok. Jika standar karantina dijaga dengan baik, komoditas kita tidak hanya mampu menembus pasar Asia, tetapi juga Eropa,” tambahnya.

Karding juga mendorong pembangunan fasilitas instalasi dan laboratorium di Sulawesi Tengah guna memastikan kualitas komoditas ekspor memenuhi standar internasional serta mendukung hilirisasi produk unggulan daerah.

Dukung Kebijakan Gubernur

Ketua Asosiasi Perkebunan Durian Indonesia (Apdurin) Kabupaten Parigi Moutong, Hengky Idrus, SP, M.Si menyambut baik rencana gubernur yang akan menjadikan Sulteng sebagai raja durian dunia.

Untuk menjadi raja durian urai Idrus Pemerintah Provinsi Sulteng dan pemerintah kabupaten harus bersinergi menggerakkan petani untuk menanam durian.

“Pemerintah harus menggerakkan petani untuk menanam durian, menyiapkan bibit unggul, melakukan pendampingan terhadap petani, sekaligus menyiapkan pupuk subsidi kepada petani durian. Selama ini, pupuk subsidi masih diperuntukan kepada petani sawah. Sementara petani durian masih menggunakan pupuk non subsidi,” jelas mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Palu ini.

Hengky berharap di tahun depan, kebijakan anggaran Pemprov Sulteng maupun pemerintah kabupaten di daerah ini bisa diarahkan untuk pengembangan perkebunan durian.

Tahun ini kata Hengky terdapat alokasi anggaran pengadaan bibit durian. “Tapi hanya pokir (pokok-pokok pikiran) dari anggota DPRD provinsi. Tidak besar jumlahnya. Kalau ditotal tidak sampai 400 juta. Itupun hanya untuk pengadaan bibit yang dibagikan kepada konstituen anggota DPRD yang mengalokasikan anggaran tersebut,” jelas Hengky.

Ia memaklumi kebijakan anggaran pemerintah provinsi belum terarahkan untuk pengembangan perkebunan durian rakyat, karena keterbatasan jumlah anggaran pemerintah daerah.

“Kami berharap Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pertambangan bisa dialokasikan untuk mendukung pembangunan sektor pertanian khususnya petani durian. Kami berharap dalam APBD Perubahan 2026 Pemprov telah mengalokasikan anggaran pengadaan bibit durian,” pungkas Hengky.**

editor: moh. habil masri