Ingin Jadi Raja Durian Dunia? Sulteng Harus Punya 100 Ribu Hektar Kebun Durian

Ekobis, Headline389 Dilihat

PALU, Sulteng Today – Sulawesi Tengah (Sulteng) bercita-cita menjadi raja durian dunia. Sebagaimana diungkapkan Gubernur Sulteng, H. Anwar Hafid saat menerima kunjungan Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Abdul Kadir Karding, Kamis, 26 Mei 2026.

Ketua Asosiasi Pengusaha Durian Indonesia (Apdurin) Parigi Moutong, Hengky Idrus, SP, M.Si yang dihubungi Sulteng Today, Selasa, 2 Juni 2026 menegaskan, pernyataan gubernur tersebut merupakan isyarat bahwa, salah satu prioritas Pemerintahan Anwar Hafid dan dr. Reny A. Lamadjido adalah pembangunan sektor pertanin dan perkebunan.

Untuk menjadi raja durian dunia kata Hengky Idrus, Sulteng harus memiliki sekitar 100 ribu hektar perkebunan durian. Mulai dari perkebunan rakyat, perkebunan perusahaan swasta hingga perkebunan milik perusahaan daerah.

“Selama ini, perusahaan daerah di Sulteng belum tertarik berinvestasi di bidang perkebunan durian. Padahal bidang usaha ini sangat menjanjikan dari aspek bisnis,” jelas mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Palu ini.

Menurut Hengky, membuka lahan perkebunan durian 100 ribu hektar tidak terlalu berat, apabila program tersebut menjadi agenda bersama dengan pemerintah kabupaten di Sulteng.

“100.000 hektar dibagi secara proporsional berdasarkan ketersediaan lahan di 12 kabupaten, saya pikir bisa terealisasi. Selain itu petani digerakkan untuk menanam durian di lahan mereka yang selama ini belum diolah,” jelas alumni Fakultas Pertanian Universitas Tadulako ini.

Bila Sulteng berhasil membuka perkebunan durian seluas 100 ribu hektar, “In sya Allah kita bisa mengalahkan Thailand yang selama ini dikenal sebagai salah satu negara importir buah durian terbesar dunia,” jelasnya lagi.

Hengky menjelaskan secara detail jumlah tenaga kerja yang bisa terserap di bisnis perkebunan durian. Menurutnya, tiap hektar kebun durian, rata-rata menghasilkan 10 ton durian. Ini angka minimal. Tetapi, bila pohon durian dirawat bagus, bisa menghasilkan buah seberat 18 ton/hektar.

Menurut Hengky, bila perkebunan durian seluas 100 ribu dikelola secara agroindustri, membutuhkan sekitar 100 paching house. Tiap packing house mempekerjakan sekitar 300 karyawan.

“Khusus di packing house bisa menyerap sekitar 30.000 tenaga kerja. Ini belum termasuk jumlah karyawan di unit pemetikan dan perawatan kebun. Karyawan-karyawan tersebut sudah pasti membutuhkan makan dan minum, yang tentunya kebutuhan tersebut bisa disiapkan oleh pelaku usaha mikro kecil di desa-desa lingkar perkebunan durian,” jelasnya lagi.

Lebih lanjut Hengky menjelaskan, saat ini luas perkebunan durian di Sulteng sekitar 36 ribu hektar, sebagaimana data Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Provinsi Sulteng.

“Dari jumlah itu, sekitar 12.000 sudah produksi,” jelas Hengky. Hengky belum mengetahui informasi detail sebaran kebun seluas 36 ribu hektar tersebut. “Khusus Kabupaten Parigi Moutong pernah kami data, luasan kebun durian hanya sekitar 1.000 hektar,” jelas Hengky.

Untuk diketahui durian beku Sulteng telah menembus pasar global. Sejak Januari hingga April 2026 pengusaha Sulteng berhasil mengekspor durian beku seberat 4.077 ton ke Tiongkok dengan nilai ekspor sebesar Rp377,5 miliar.**

editor: moh. habil masri