Sulteng Today – Gempa dahsyat 28 September 2018 masih menyisahkan duka mendalam bagi warga Kota Palu, Sigi dan Donggala.
Masih segar dalam ingatan kita, gempa berkekuatan 7,7 SR ini menyebabkan likuifaksi, kerusakan infrastrukur dan korban jiwa yang tidak sedikit.
Di tengah kondisi yang serba sulit ini, terbuka jalan bagi Pemerintah Kota Palu dan Pemerintah Jepang untuk memperkuat kolaborasi penanganan gempa.
Penguatan kolaborasi Pemkot – Jepang ini ditandai kunjungan balasan Wali Kota Iwanuma, Prefektur Miyagi, Jepang, Jun’ichi Satō bersama rombongan selama tiga hari di Kota Palu. Mulai Minggu, 13 hingga Selasa 15 Juli 2025.
Selama di Kota Palu, Wali Kota Jun’ichi Satō bersama Pemkot dan warga kota ini melaksanakan beberapa kegiatan. Di antaranya simulasi evakuasi bencana di hunian tetap (Huntap) Tondo 1. Simulasi ini bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap risiko gempa bumi.
“Simulasi ini penting dilakukan secara berkala, agar masyarakat tahu apa yang harus dilakukan saat bencana terjadi,” jelas Manajer Proyek Kerja Sama Japan Overseas Cooperative Association (JOCA) dan Pemkot Palu, Hoshi Eiji, sebagaimana dikutip Sulteng Today dari laman Pemkot Palu.
Wali Kota Jun’ichi Satō bersama Pemkot juga menggelar Diseminasi JOCA 2025. Kegiatan ini dilaksanakan, Senin, 14 Juli 2025 di auditorium kantor Wali Kota Palu.
Kegiatan ini merupakan bagian dari proyek kolaborasi “Perencanaan komunitas tangguh pasca rekonstruksi di area relokasi kolektif di Kota Palu” yang berlangsung sejak Oktober 2022 hingga September 2025. Proyek ini difasilitasi Japan Overseas Cooperative Association (JOCA).
Diseminasi ini dihadiri Wali Kota Palu, H. Hadianto Rasyid, SE bersama sejumlah pejabat Pemkot Palu, serta Wali Kota Iwanuma, Jun’ichi Satō, beserta delegasi dari JOCA dan Japan International Cooperation Agency (JICA).
Dalam sambutannya, Wali Kota Hadianto mengungkapkan rasa hormat dan terima kasih atas perhatian dan dukungan pemerintah dan masyarakat Jepang. Khususnya sejak terjadi gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi yang melanda Kota Palu tujuh tahun silam.
“Teringat ketika terjadi bencana besar di Kota Palu, rombongan relawan dari JICA dan Jepanglah yang termasuk rombongan awal yang masuk membantu Kota Palu. Mereka tidak hanya membawa bantuan berupa barang dan jasa keperluan pasca bencana semata, tetapi juga para ekspert yang terlibat intens dalam pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana di Kota Palu,” ujar Wali Kota Hadianto.
Wali kota menambahkan, ketika banyak lembaga donor telah menyelesaikan kegiatannya, pihak dari Jepang tetap setia mendampingi Kota Palu dalam rangka memperkuat kohesi sosial masyarakat pasca bencana.
“Kunjungan hari ini juga merupakan simbol dan komitmen untuk saling memperkuat dan memperkokoh hubungan antara dua kota dari dua negara, khususnya pada bidang rehabilitasi, rekonstruksi, serta penguatan komunitas pasca bencana,” kata wali kota.
Wali Kota Hadianto juga menegaskan bahwa Kota Palu saat ini sedang berupaya bergerak lebih cepat menuju kota global yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.
Wali Kota Palu berharap kehadiran Wali Kota Iwanuma beserta rombongan dapat menjadi momentum untuk saling berbagi pengalaman, terutama penerapan model kota tangguh bencana yang memadukan perencanaan berbasis risiko, keterlibatan masyarakat, dan pembangunan berkelanjutan.
Hadianto berharap kerjasama Kota Palu dan Kota Iwanuma dapat terus berkembang. Tidak hanya dalam konteks penanggulangan bencana, tetapi juga dalam pengelolaan lingkungan hidup, pendidikan, pengembangan ekonomi lokal, pertukaran budaya, pariwisata, hingga teknologi.
“Semoga kunjungan kali ini membawa kesan mendalam dan berubah menjadi persahabatan yang abadi, serta penanda awal bagi rintisan kerjasama yang lebih erat dan berkelanjutan di masa depan,” tutup Hadianto.
Diharapkan, hasil Diseminasi JOCA 2025 ini dapat menjadi contoh baik bagi Kota Palu dan kota-kota lainnya dalam mewujudkan komunitas tangguh dan berdaya saing pasca bencana.
Kegiatan diakhiri dengan penandatanganan perjanjian Persahabatan Sister-organisasi Antara PRB Simpotove Tangguh Huntap 1 Tondo, Palu, Indonesia dan Dewan Masyarakat Pengembangan Komunitas Tamaura-nishi, Kota Iwanuma, Prefekture Miyagi, Jepang.**
