PALU, Sulteng Today – Kabupaten Tolitoli masih mempertahankan rekor sebagai daerah kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah dengan inflasi tertinggi.
Pada Oktober 2025, inflasi di daerah tersebut kokoh di angka 6,69 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 118,25.
Inflasi terendah di 13 kabupaten/kota di Sulteng masih dipegang oleh Kota Palu, dengan angka 3,08 persen dan IHK sebesar 108,88.
Untuk Provinsi Sulteng, pada Oktober 2025 inflasi year on year (y-on-y) sebesar 3,92 persen dengan IHK 111,02.
Tingkat inflasi month to month (m-to-m) di Sulteng pada Oktober 2025 sebesar 0,05 persen dan inflasi year to date (y-to-d) Oktober 2025 sebesar 3,60 persen.
Untuk mengendalikan inflasi, Pemerintah Provinsi Sulteng bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), termasuk Satuan Tugas (Satgas) Pangan telah bekerja keras.
Mulai melakukan rapat koordinasi pengendalian inflasi, melakukan inspeksi mendadak (Sidak) untuk mengecek harga pangan di pasar-pasar tradisional, memastikan ketersediaan bahan pangan di gudang Bulog, hingga melibatkan aparat TNI/Polri dalam menjual beras SPHP (Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan).
Tujuannya hanya satu. Harga beras yang menjadi salah satu penyumbang inflasi turun.
Dalam beberapa kesempatan Wakil Gubernur Sulteng, dr. Reny A. Lamadjido menekankan, pentingnya kolaborasi dan sinergitas multipihak sebagai kunci utama pengendalian inflasi.
Terutama menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Untuk memastikan inflasi terkendali Wagub Reny akan mengagendakan rapat dengan 4 pemerintah kabupaten/kota yang jadi indikator perhitungan inflasi Sulteng yakni Kota Palu, Kabupaten Banggai, Morowali dan Tolitoli.
“Semoga akhir tahun tidak ada kenaikan tajam bahan pangan,” pungkas Wagub dalam rapat terkait pengendalian inflasi beberapa waktu lalu.
Untuk diketahui, pada bulan September 2025 inflasi Sulteng berada di angka 3,88 %, lebih rendah dari Agustus 2025 sebesar 4,02%.**
editor: moh. habil masri
