KETIKA MENARA GADING RETAK

Headline, Opini962 Dilihat

SUPARMAN*)

DI SETIAP kampus, seharusnya bersemayam elan vital ilmu pengetahuan—semangat luhur yang menyalakan lentera peradaban ilmu pengetahuan. Namun kini, lentera itu sudah mulai meredup. Bahkan, padam tanpa cahaya lagi.

Cahaya kejujuran ilmiah digerogoti kelindan kepentingan pribadi, sementara menara gading yang dulu berdiri tegak di atas fondasi integritas, perlahan retak oleh godaan pragmatisme akademik. Pragmatisme akademik menjebak kita dalam kubangan kepalsuan.

Di ruang-ruang dosen, di balik laporan penelitian dan tumpukan proposal kenaikan jabatan, tercium aroma anyir pengkhianatan terhadap ilmu.

Ketika hasil riset mahasiswa disalin, diklaim, dan dijadikan batu loncatan karier akademik, tanpa menyebut nama si pemilik ide, maka di situlah degradasi integritas mencapai titik nadirnya.

Seperti kata Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed, pendidikan sejati lahir dari dialog, bukan dominasi. Namun kini, di banyak ruang akademik, dialog itu sudah tergantikan oleh dominasi kepentingan—antara dosen yang menguasai dan mahasiswa yang terpaksa tunduk. Relasi yang timpang ini membungkam kemerdekaan akademik. Justru sebali, penghianatan akademik itu tumbuh subur.

Kasus-kasus semacam ini bukan sekadar pelanggaran administratif semata, melainkan perampokan terhadap hak intelektual dan masa depan ilmiah bangsa.

Dalam beberapa tahun terakhir, publik digemparkan oleh deretan skandal akademik: plagiarisme disertasi, manipulasi sitasi, bahkan jual beli karya ilmiah.

Tahun 2023, misalnya, salah satu kasus paling menonjol adalah terbongkarnya praktik plagiarisme pada karya ilmiah dosen di salah satu universitas negeri ternama di Jawa Barat—di mana penelitian mahasiswa dijadikan bahan utama untuk publikasi Scopus sang dosen tanpa izin maupun kredit akademik.

Fenomena ini menggambarkan bukan sekadar kebobrokan individu, melainkan sistem yang lapuk. Di tengah tekanan birokrasi kenaikan jabatan, banyak dosen menjadikan angka kredit sebagai altar baru yang disembah.

Akademia kehilangan elan etikanya, terperangkap dalam labirin administratif di mana yang dihitung bukan lagi kualitas gagasan, melainkan kuantitas publikasi.

Budaya pamer jumlah publikasi membuat tindakan tak elok halal untuk dikerjakan.

Sang Jenius, Albert Einstein pernah mengingatkan, kecerdasan bukanlah tanda kehebatan sejati, tetapi karakter. Namun, dalam dunia akademik hari ini, karakter sering menjadi mata uang yang paling murah. Karakter menjadi barang mahal dan susah ditemukan.

Fenomena dosen yang datang terlambat, dosen berjibun proyek enggan membimbing mahasiswa dengan sungguh-sungguh, atau abai terhadap kewajiban tridarma, seolah menjadi pemandangan biasa. Kampus bukan lagi taman ilmu, melainkan ladang rutinitas yang kehilangan roh keilmuan. Alih-alih untuk memperbaiki kinerja, kampus hanya jembatan untuk berkiprah entah dimana.

Integritas Akademik

Integritas akademik sejatinya adalah jantung universitas. Ia adalah nadi kehidupan kampus. Tanpanya, setiap ijazah hanyalah kertas tanpa makna, setiap gelar hanyalah topeng tanpa isi. Ketika seorang dosen mempublikasikan karya yang bukan miliknya, sejatinya ia sedang merobek kain suci keilmuan yang menutupi tubuh pendidikan itu sendiri.

Ia bukan hanya mencederai nama baik mahasiswa, tetapi juga menghina martabat profesinya.

Filsuf Amerika, John Dewey pernah berujar pendidikan bukanlah persiapan untuk hidup, tetapi kehidupan itu sendiri. Maka, bila pendidikan adalah kehidupan, kebohongan akademik adalah kematian itu sendiri.

Ia membunuh kepercayaan publik, mematikan semangat mahasiswa, dan menghancurkan nilai moral yang menjadi fondasi kampus.

Kondisi ini berkelindan dengan budaya instan yang menjangkiti dunia akademik: membeli artikel jurnal, membayar jasa ghostwriter, hingga praktik jual beli gelar. Semua ini menandakan bahwa kampus tidak lagi menjadi rumah bagi pencarian kebenaran, melainkan pasar gelar dan reputasi.

Namun, kita tak boleh menyerah pada keputusasaan. Kita tidak boleh larut dalam nestapa seperti itu. Masih banyak akademisi dan intelektual yang menjaga marwah ilmu, yang mengajarkan dengan cinta, yang meneliti dengan jujur, dan yang menulis dengan integritas.

Mereka adalah lilin-lilin kecil di tengah gelapnya koridor pendidikan. Mereka yang percaya bahwa jabatan akademik bukanlah tujuan, melainkan konsekuensi dari dedikasi ilmiah.

Ikhtiar akademik yang penuh integritas dan kejujuran berbuah jabatan akademik. Jabatan akademik tertinggi menjadi muara dari kerja-kerja akademik yang berintegritas. Bukan hasil dari kepalsuan akademik yang terus dikerjakan tanpa rasa malu.

Kita membutuhkan reformasi akademik yang menyentuh akar: mulai dari pembenahan sistem promosi jabatan akademik, pembentukan etika riset yang ketat, hingga penegakan sanksi tegas terhadap pelaku plagiarisme, dan perampok budaya akademik. Di sisi lain, pendidikan moral dan etika akademik harus dihidupkan kembali—bahwa menjadi akademisi bukan sekadar bekerja, tetapi mengemban amanah etika dan moral untuk menuntun generasi menuju pencerahan. Tujuan generasi emas bangsa ini dapat terlahirkan.

Kasus demi kasus soal integritas di Indonesia seharusnya menjadi cermin buram yang memaksa kita merenung. Dari plagiarisme, publikasi palsu, hingga pelanggaran etika bimbingan, memaksa mahasiswa bimbingan untuk memberikan hadiah, semuanya menunjukkan bahwa sistem pendidikan tinggi kita sedang sakit. Dan penyakit ini bukan soal kurangnya kecerdasan, melainkan lemahnya karakter. Membangun karakter dan budaya akademik yang baik dan benar harus dilakukan.

Dari banyak kasus itu, kita dapat merenungkan kutipan dari C.S Lewis, Integrity is doing the right thing, even when no one is watching. Kalimat sederhana itu seharusnya menjadi semboyan setiap dosen dan akademisi. Karena ilmu tanpa integritas hanyalah kepalsuan yang berwajah cendekia.

Di penghujung hari, kampus harus kembali menjadi ruang suci bagi pencarian kebenaran, bukan arena kepalsuan akademik. Setiap karya harus lahir dari nurani yang jernih, bukan dari ambisi yang keruh. Setiap bimbingan harus menjadi perjumpaan antara hati yang tulus dan pikiran yang merdeka.

Jika integritas akademik telah runtuh, maka bukan hanya kampus yang kehilangan arah, tetapi seluruh bangsa akan kehilangan masa depannya. Sebab, seperti kata Ki Hajar Dewantara, ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Bagaimana mungkin seorang dosen bisa menjadi teladan bila ia sendiri mencuri ilmu mahasiswanya?

Kini, saatnya menyalakan kembali api kecil kejujuran itu—meski di tengah angin kencang kepalsuan akademik. Sebab hanya dengan integritas, ilmu akan kembali punya makna dan hanya dengan moralitas, pendidikan akan kembali punya jiwa.

*Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tadulako