MEMBACA ARAH EKONOMI SULTENG 2026

Headline, Opini993 Dilihat

SUPARMAN*)

KITA tentu harus cermat membaca arah ekonomi masa mendatang. Ketika lanskap perekonomian global saat ini terus bergerak, semakin mudah bergejolak dan penuh ketidakpastian.

Dunia belum sepenuhnya pulih dari dampak pandemi Covid-19, sementara konflik geopolitik, geoekonomi, fragmentasi perdagangan internasional, perubahan iklim, serta pengetatan kebijakan moneter di negara-negara maju menciptakan tekanan berlapis terhadap stabilitas ekonomi.

Ketidakpastian ini tidak hanya dirasakan di tingkat nasional, tetapi juga menjalar hingga ke daerah, termasuk wilayah-wilayah yang selama ini menjadi motor pertumbuhan ekonomi (engine of growth) berbasis sumber daya alam.

Dalam konteks itu, kita perlu mencermati dan membaca kinerja ekonomi Sulteng sepanjang tahun 2025 memberikan sinyal yang menarik, sekaligus strategis untuk dibaca lebih mendalam.

Dengan data Triwulan III-2025, ekonomi Sulteng tumbuh 7,79 persen (year-on-year). Pertumbuhan ini jauh melampaui rata-rata nasional.

Angka ini menegaskan bahwa Sulteng bukan sekadar “ikut arus” pertumbuhan nasional, tetapi sedang membangun dinamika ekonomi regionalnya sendiri.

Inflasi yang terkendali di kisaran 3,92 persen (YoY), serta kinerja ekspor yang kuat.

Kekuatan ekspor secara khusus masih bertumpuh pada komoditas nikel. Sisi ekspor ini masih menjadi fondasi utama bagi optimisme memasuki tahun 2026.

Namun, sebagaimana diingatkan oleh Joseph E. Stiglitz (2008), masalah utama dalam perekonomian modern sebernarnya, bukan terletak pada pertumbuhan itu sendiri, melainkan pada kerapuhan yang tersembunyi di balik pertumbuhan tersebut.

Pertumbuhan yang tinggi, tetapi rapuh secara struktural, dapat dengan cepat runtuh ketika lingkungan global berubah secara tiba-tiba.

Kita tahu, ekonomi global kadang tak terduga. Kita mesti melihat tantangan dan peluang ekonomi Sulawesi Tengah masa mendatang, tidak hanya tetap mempertahankan laju pertumbuhan tinggi, tapi memastikan tumbuhnya sekaligus punya daya tahan terhadap adanya kejutan global.

Kinerja Makroekonomi Bukan Sekadar Angka

Kita semua tahu bahwa kinerja makro daerah, ditopang utamanya pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah Triwulan III-2025, yang bersumber dari leading sector dan sektor lainnya.

Ekonomi Sulteng tetap bertumpuh pada Sektor Pertambangan dan Penggalian, terutama komoditas nikel yang masih menarik investasi dan menopang kinerja ekspor.

Kondisi ini diuntungkan adanya permintaan global terhadap nikel yang masih tinggi. Tentunya, fenomena ini berjalan seiring adanya akselerasi transisi energi, dan meningkatnya kebutuhan baterai untuk mobil listrik.

Selain itu, pemerintah pusat menetapkan kebijakan hilirisasi berbasis industri pengolahan logam dasar turut memperpanjang rantai nilai ekonomi.

Sementara itu, kinerja sektor industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi tumbuh masih menjadi sektor pendukung utama yang saling berkaitan.

Interaksi antarsektor ini meningkatkan dampak multiplier yang baik bagi pertumbuhan. Melalui rangkaian adanya aktivitas industri turut mendorong kebutuhan logistik yang naik, perumahan, infrastruktur, dan jasa ikut meningkat.

Kondisi dapat dibaca dengan data meningkatnya kegiatan konstruksi dan perdagangan.

Menariknya gejalan ini, mengambarkan pertumbuhan ekonomi daerah, tidak sepenuhnya lagi hanya terkonsentrasi pada sektor pertambangan. Aktivitas ekonomi sudah mulai menjalar ke berbagai sektor.

Signal kinerja ekonomi daerah juga membaik, terlihat dari angka Inflasi yang tetap terkendali, artinya pertumbuhan belum mencapai overheating economy dan tidak bersifat berlebihan.

Tentu saja dari kacamata kebijakan makro, pentingnya stabilitas harga sebagai prasyarat pertumbuhan, sehingga tidak menurunkan daya beli masyarakat dan melahirkan ketimpangan baru.

Dampak bagi Rumah Tangga dan Dunia Usaha

Dari sisi kacamata mikro, pertumbuhan tinggi tersebut membawa akibat langsung bagi perilaku rumah tangga, dunia usaha dan dunia industri.

Adanya kenaikan aktivitas industri pengolahan nikel menciptakan permintaan di pasar tenaga kerja, baik bersifat langsung maupun tidak langsung. Kondisi ini, turut meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar kawasan, dimana aktivitas ini selanjutnya akan turut mendorong konsumsi rumah tangga.

Semestinya aktivitas ekonomi yang terus berkembang tersebut memberikan peluang pelaku UMKM, terutama mereka yang bekerja di sektor perdagangan, transportasi, kuliner, dan jasa.

Aktivias ekonomi di satu pihak memberikan dinamika bagi peluang pasar baru di sektor lain. Kita semua ketahui, tantangan justru muncul pada UMKM lokal, yang secara umum belum terintegrasi ke dalam rantai pasok industri besar tersebut. Kondisi ini membutuhkan kebijakan dan strategi dari pemerintah pusat dan daerah, perlunya segera kebijakan afirmatif dan peningkatan kapasitas.

Jika ini tidak dikerjakan secara cepat, maka pertumbuhan berisiko menciptakan dualisme ekonomi yakni, sektor modern tumbuh pesat, dan sektor ekonomi rakyat berjalan di tempat, bahkan dapat mundur.

Membangun optimisme ekonomi memasuki 2026, namun kita semua tetap sadar dan prudent karena ekonomi dunia masih dibayangi sejumlah risiko: adanya perlambatan pertumbuhan, masih tingginya volatilitas harga komoditas, sering munculnya ketegangan geopolitik antar negara, juga termasuk masih adanya fragmentasi rantai pasok internasional.

Bagi Provinsi Sulteng yang memiliki ketergantungan tinggi pada kinerja ekonomi atas komoditas global, maka risiko ini tidak bisa diabaikan begitu saja.

Begawan ekonom dari Harvard University, Dani Rodrik (2011), mengingatkan kita semua, globalisasi tentu saja membuat perekonomian semakin saling terhubung, tetapi juga saat yang sama membuatnya semakin rentan terhadap kejutan eksternal.

Keterbukaan ekonomi mempercepat pertumbuhan, namun juga memperbesar transmisi krisis dari luar.

Penurunan harga nikel global, perubahan kebijakan dagang negara mitra, atau perlambatan investasi asing dapat langsung memengaruhi kinerja ekonomi daerah. Oleh karena itu, pentingnya membangun ketahanan ekonomi daerah.

Ketahanan bukan berarti menutup dari adanya globalisasi, tetapi justru memperkuat kemampuan adaptasi dan keunggulan melalui diversifikasi sektor-sektor ekonomi, memperkuat pasar domestik, dan meningkatkan kapasitas institusi ekonomi lokal.

Optimisme Perlu Dikelola

Melihat dan membaca tren ekonomi yang terjadi tahun 2025, maka cakrawala ekonomi Sulteng pada tahun 2026 tetap cenderung positif.

Pertumbuhan tetap diestimasi di atas rata-rata nasional. Kinerja pertumbuhan ditopang beberapa pendorong utama antara lain masih berlanjutnya hilirisasi nikel, adanya penguatan sektor perdagangan dan konstruksi, termasuk kebijakan stabilitas inflasi yang menopang konsumsi rumah tangga.

Pemerintah pusat terus memantu kinerja inflasi melalui berbagai model monitoring dan evaluasi.Tentu saja rasa optimisme tersebut perlu selalu dikelola secara hati-hati.

Sebab, adanya ketergantungan berlebihan hanya pada satu komoditas tertentu, akan membuat ekonomi daerah rentan terhadap siklus boom and bust.

Seringkali, sejarah ekonomi menunjukkan daerah yang kaya sumber daya alam cenderung gagal melakukan diversifikasi sejak dini, akan mengalami perlambatan tajam dan penurunan harga komoditas bahkan sampai jatuh.

Dalam konteks ini, pemikiran ekonom John Maynard Keynes (1936) masih tetap relevan.

Ia menyatakan bahwa kesulitan terbesar dalam membangun masa depan ekonomi bukan terletak pada menciptakan gagasan baru, melainkan pada keberanian meninggalkan cara berpikir lama.

Bagi Sulteng, tantangannya adalah keluar dari pola pertumbuhan berbasis industri ekstraksi, menuju pertumbuhan berbasis nilai tambah, inovasi, dan inklusivitas.

Tentu kita semua menajamkan cara berfikir dan mencari solusi cerdas, agar ekonomi Sulteng tidak rapuh dan mudah ambruk ketika menghadapi ketidakpastian global, sejumlah strategi perlu diperkuat.

Sebutlah itu, diversifikasi ekonomi menjadi kunci utama, melalui pengembangan pertanian bernilai tambah, perikanan, pariwisata berkelanjutan, serta ekonomi hijau dan biru untuk menopang semua itu.

Penguatan UMKM dan integrasi ke dalam rantai pasok industri besar harus menjadi agenda nyata, bukan sekadar retorika.

Seringkali kita menyaksikan pengembangan UMKM masih sekadar bahan kampanye. Bahkan, sekadar jargon di acara-acara seremonial.

Selain itu, tentu kita paham bersama bahwa investasi pada kualitas sumber daya manusia, kepastian regulasi, serta pengelolaan fiskal daerah yang hati-hati akan menentukan kemampuan daerah meredam guncangan eksternal.

Tanpa terkecuali, ketidakpastian global adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari sama sekali. Namun, bagi Sulteng, kondisi ini justru dapat menjadi momentum dan peluang untuk memperkuat fondasi ekonomi daerah.

Jika kita simak secara cermat, data Triwulan III-2025 menunjukkan bahwa Sulteng memiliki modal awal yang kuat antara lain pertumbuhan tinggi, inflasi terkendali, dan sektor unggulan yang kompetitif di pasar global.

Jika pertumbuhan adalah kecepatan, maka ketahanan adalah arah. Maka kita dapat berkesimpulan tahun 2026 akan menjadi ujian penting.

Apakah Sulteng hanya berlari cepat, atau benar-benar melaju menuju masa depan ekonomi yang kokoh dan berkelanjutan. Kita mahfum, jargon dan retorika saja tidak cukup untuk mewujudkan.

*) Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tadulako