JAKARTA, Sulteng Today – Pemerintah didorong mempercepat hilirisasi industri obat berbahan baku lokal demi memangkas ketergantungan impor farmasi. Saat ini harga-harga obat di pasaran mulai melonjak seiring melemahnya nilai tukar rupiah. Ketergantungan bahan baku obat dari produk impor juga memicu kerapuhan ketahanan kesehatan nasional.
Dorongan ini dikemukakan Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PKB, Nasim Khan di Jakarta, Rabu, 10 Juni 2026. Nasim mendesak optimalisasi Obat Bahan Alam (OBA) dengan memanfaatkan kekayaan hayati Indonesia.
Menurutnya, pemanfaatan tanaman obat lokal bukan sekadar alternatif, melainkan strategi mutlak untuk menstabilkan harga obat di pasar domestik sekaligus menggerakkan ekonomi sektor pertanian herbal.
“Saat ini bahan baku obat mayoritas berasal dari impor. Ketika rupiah melemah, bahan baku obat tentunya berdampak sehingga harga obat menjadi mahal. Indonesia memiliki warisan kekayaan alam dan budaya pengobatan tradisional yang luar biasa. Kita memiliki berbagai jenis tanaman obat dan bahan alami yang berpotensi dikembangkan menjadi Obat Bahan Alam yang aman, berkhasiat, dan bermutu. Ini bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga bagian dari upaya memperkuat kemandirian bangsa,” ujar Nasim Khan..
Legislator PKB ini menegaskan bahwa ketergantungan masif pada pasokan global sangat merugikan masyarakat kecil yang membutuhkan akses pengobatan terjangkau. Ia menuntut pemerintah menetapkan target konkret pengurangan impor tahunan dan memperkuat ekosistem farmasi dalam negeri, mulai dari teknologi, bahan kemasan, hingga mesin produksi.
“Masyarakat yang membutuhkan pengobatan tentunya sangat terdampak ketika harga obat menjadi semakin mahal. Pemerintah harus memiliki target untuk menurunkan ketergantungan bahan baku impor. Jangan sampai ketahanan kesehatan nasional kita bergantung pada kondisi negara lain,” ujarnya.
Nasim menilai akan ada perubahan signifikan pada harga dan stok obat jika pemerintah berhasil melakukan hilirisasi bahan obat berbasis lokal. Menurutnya petani tanaman obat hingga UMKM akan merasakan dampak nyata.
“ Kalau bahan baku obat bisa diproduksi lebih banyak di dalam negeri, maka harga obat akan lebih stabil, pasokan lebih terjamin, dan manfaat ekonominya juga bisa dirasakan masyarakat. Petani tanaman obat, pelaku UMKM herbal, hingga industri farmasi nasional akan ikut tumbuh,” tegasnya.
Legislator asal Jawa Timur ini meminta adanya sinergi lintas sektor untuk mempercepat penguasaan teknologi kesehatan dan inovasi riset. Ia optimis Indonesia mampu mandiri secara medis jika potensi alam dikelola secara serius dan terintegrasi dari hulu ke hilir.
“Kemandirian industri kesehatan harus menjadi agenda strategis nasional. Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah dan kemampuan riset yang terus berkembang. Tinggal bagaimana pemerintah dan industri mempercepat hilirisasi serta pemanfaatan bahan baku lokal agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” pungkas Nasim, sebagaiman dikutip Sulteng Today dari laman resmi FPKB DPR RI.**
editor: moh. habil masri
