Buya Subi Festival 2026 Dalam Perspektif Ekonomi Wisata Berbasis Kearifan Lokal Menuju Sulteng Nambaso

Headline, Opini161 Dilihat

Dr. H. Suaib Djafar, M.Si, Maestro Budayawan Kaili

BUYA Subi Festival Tahun 2026 merupakan sebuah perhelatan budaya yang mengangkat warisan luhur Tenun Donggala sebagai identitas budaya masyarakat Kaili sekaligus sebagai penggerak ekonomi wisata berbasis kearifan lokal menuju Sulteng Nambaso—Sulawesi Tengah yang maju, berdaya saing, sejahtera, dan tetap berakar pada nilai-nilai budaya.

Buya Subi Lungsi adalah tenun khas Donggala yang menggunakan lungsi dengan perpaduan benang sutra dan benang emas. Keindahannya semakin memikat melalui ragam motif Bomba (bunga) dengan warna-warna cerah seperti merah, kuning, hijau, biru, dan krem Dan Lainnya.

Sejak dahulu hingga kini, kain tenun ini dikerjakan dengan penuh ketekunan Jari jari terampil ( Hand Made) oleh perempuan-perempuan Donggala, sementara para laki-laki menjalankan peran sebagai petani dan nelayan.

Pembagian peran tersebut mencerminkan keseimbangan kehidupan keluarga dan menjadi bagian dari sistem sosial masyarakat Kaili yang diwariskan secara turun-temurun.

Tenun Donggala Buya Subi bukan sekadar karya seni, tetapi juga mengandung filosofi kehidupan. Motif Bomba yang berarti bunga melambangkan keindahan, kesuburan, harapan, serta keberagaman yang menyatu dalam satu ikatan persaudaraan. Karena itu masyarakat mengenalnya sebagai Buya Bomba Subi, yaitu sarung tenun Donggala yang menjadi simbol identitas, kehormatan, dan kebanggaan masyarakat Kaili.

Keberagaman warna pada motif bunga menggambarkan masyarakat yang berbeda latar belakang namun hidup berdampingan dalam harmoni. Nilai-nilai luhur tersebut diwujudkan melalui falsafah hidup masyarakat Kaili, yaitu Nosimpotove (saling mengasihi), Nosipeili (saling peduli), dan Nosimpoasi (saling menghargai).

Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi kehidupan sosial, memperkuat persatuan, serta menjaga kerukunan dalam membangun daerah. Melalui Buya Subi Festival Tahun 2026, Tenun Donggala diharapkan semakin dikenal sebagai daya tarik wisata budaya unggulan Sulawesi Tengah. Festival ini menjadi ruang promosi bagi para penenun, perajin, pelaku UMKM, desainer, generasi muda, serta industri kreatif untuk mengembangkan produk berbasis tenun yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Kehadiran wisatawan akan menciptakan peluang usaha, meningkatkan pendapatan masyarakat, membuka lapangan kerja, serta memperkuat ekonomi lokal yang berkelanjutan.

Lebih dari sekadar festival budaya, Buya Subi Festival merupakan gerakan pelestarian warisan leluhur yang menghubungkan tradisi dengan inovasi, budaya dengan pariwisata, serta kearifan lokal dengan pembangunan ekonomi.

Dengan semangat kebersamaan, festival ini diharapkan menjadi ikon budaya Sulawesi Tengah yang mampu mengangkat martabat Tenun Donggala di tingkat nasional maupun internasional, sekaligus memperkuat jati diri masyarakat Kaili dalam mewujudkan Sulteng Nambaso yang maju, harmonis, berbudaya, dan sejahtera.” Ane Ledo kita Semapa” ( Kalau Bukan kita siapa lagi)**