Angka Prevalensi Turun, Stanting di Sulteng Tetap Tinggi

Sulteng1026 Dilihat

SultengToday.id – Pemerintah Provinsi Sulteng bersama pemerintah kabupaten/kota terus berusaha menurunkan prevalensi stanting. Hasilnya cukup menggembirakan. Tahun 2022, stanting bertengger di angka 28,2 persen. Tahun 2024 berkurang menjadi 26,1 persen. Terjadi penurunan sekira 2,1 persen.

Kondisi stanting ini, dikemukakan Wakil Gubernur Sulteng, dr. Reny A. Lamadjido, Sp.PK, M.Kes saat membuka rapat koordinasi daerah (Rakorda) Program Bangga Kencana, di salah satu hotel di Kota Palu, Selasa, 8 Juli 2025.

“Penanganan stunting tidak bisa dilakukan sendiri. Ini kerja kolektif. Harus ada sinergi antara pemerintah, DPRD, akademisi, dunia usaha, media, organisasi masyarakat, dan tentu saja, keluarga sebagai garda terdepan,” tegas Wagub Reny di acara yang diinisiasi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sulawesi Tengah tersebut.

Wagub Reny mengakui, walau angka prevalensi stanting turun. Namun, angka tersebut masih berada di atas rata-rata nasional, yang kini telah turun ke 19,8 persen.

Terkait pelaksanaan Rakorda Program Bangga Kencana tahun 2025, Wagub Reny menyampaikan, kegiatan tersebut menjadi ajang konsolidasi lintas sektor. Untuk mempercepat penurunan stunting, dan memperkuat ketahanan keluarga, menuju visi besar Indonesia Emas 2045.

Bangga Kencana kata mantan Kadis Kesehatan Sulteng ini, bukan hanya sekadar program, tetapi motor penggerak pembangunan sumber daya manusia di daerah.
“Program ini adalah investasi masa depan. Kita butuh keluarga yang sehat dan berkualitas untuk menghadapi bonus demografi dan menyongsong Indonesia Emas,” ujarnya.

Sulteng urai Reny, mencatatkan kemajuan signifikan dalam sejumlah indikator kependudukan. Total Fertility Rate (TFR) tahun 2024 berada di angka 2,26 anak per perempuan mendekati angka pengganti sementara tingkat penggunaan kontrasepsi modern meningkat menjadi 58,9 persen, dengan 34,5 persen di antaranya menggunakan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP).

Namun, tantangan masih membayangi. Sebab, sekira 13,8 persen pasangan usia subur belum mendapatkan akses layanan KB secara optimal. Wagub menyoroti pentingnya memperluas layanan KB hingga ke pelosok desa, terutama melalui penguatan posyandu dan penyuluhan langsung.

Data Pemutakhiran Pendataan Keluarga (PK24) mencatat terdapat 789.377 keluarga di Sulteng, dengan 431.185 pasangan usia subur. Angka pernikahan dini juga menjadi perhatian, dengan prevalensi 0,73 persen yang dinilai berisiko terhadap kesehatan reproduksi dan memicu stunting.

Wagub menekankan perlunya menyatukan persepsi dan langkah bersama agar intervensi yang dilakukan lebih terarah dan berdampak luas, terutama bagi generasi mendatang.
Rakorda Bangga Kencana 2025 dihadiri oleh Ketua DPRD Sulteng H. Muhammad Arus Abdul Karim, unsur Forkopimda, kepala OPD, organisasi mitra, akademisi, hingga tokoh masyarakat.

Kehadiran lintas pemangku kepentingan ini menunjukkan komitmen bersama untuk menekan stunting dan membangun keluarga yang tangguh dan adaptif. Rakorda ini menjadi awal yang kuat dalam menyatukan energi pembangunan manusia menuju Sulawesi Tengah yang sehat, cerdas, dan berdaya saing di tengah tantangan zaman. **