Sulteng Today – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulteng bersama tim dokter Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Undata, berkolaborasi dengan tim dokter spesialis dari RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Jakarta, serta RS Wahidin Sudirohusodo Makassar.
Kolaborasi tim dokter dari tiga rumah sakit ini membuat pelaksanaan operasi perdana bedah jantung terbuka di RSUD Undata berhasil. Operasi ini sendiri dilaksanakan, Jumat, 1 Agustus 2025.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, yang meresmikan sekaligus meninjau langsung pelaksanaan operasi memberi apresiasi kepada Pemprov atas keberanian dan komitmen dalam menjamin layanan kesehatan yang setara bagi seluruh penduduk, tanpa terkecuali.
Dia menyebut program ‘Berani Sehat’ sebagai salah satu inovasi daerah yang patut menjadi contoh nasional.
“Saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Gubernur dan seluruh masyarakat Sulawesi Tengah. Program Berani Sehat ini adalah bentuk keberanian dan keberpihakan nyata dalam menjamin hak kesehatan seluruh rakyat. BERANI artinya bersama Anwar Reny, masyarakat Sulteng semua Sehat,” ujar Menkes.
Menkes juga menyambut baik pengembangan layanan bedah jantung terbuka di RSUD Undata Palu, yang disebutnya sebagai langkah strategis dan menyelamatkan banyak nyawa.
“Ini luar biasa. Dengan layanan ini, warga Sulawesi Tengah tak perlu jauh-jauh ke Jakarta atau Makassar. Kalau tindakan kateterisasi saja bisa menyelamatkan 1.500 nyawa, bayangkan kalau operasi jantung terbuka bisa rutin dilakukan di sini,” ucap Menkes.
Penyakit jantung kata Menkes, menjadi penyebab kematian nomor dua setelah stroke, dengan angka 275 ribu jiwa per tahun.
“Setiap rumah sakit provinsi harus mampu menangani tiga jenis operasi jantung: bedah jantung terbuka dasar, bypass, dan jantung anak,” tegas Menkes.
Menteri juga menyoroti fakta bahwa dari 12.000 bayi yang lahir tiap tahun dengan kelainan jantung bawaan, hanya 6.000 yang bisa dioperasi.
“Sisanya meninggal bukan karena penyakitnya tak bisa ditangani, tapi karena kekurangan dokter dan fasilitas. Ini tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.
Wakil Gubernur dr. Reny A. Lamadjido dalam sambutannya menyampaikan, keberhasilan operasi perdana ini tidak lepas dari komitmen dan intervensi langsung Pemerintah Provinsi, termasuk dalam menyiapkan seluruh kebutuhan teknis RSUD Undata sejak awal tahun.
Sejak 20 Februari kami kawal langsung proses ini. “Saya turun langsung ke RS, memastikan sekat ruangan operasi jadi, mengejar pengadaan alat, bahkan sempat kami siapkan rencana penghentian kerja sama dengan BPJS bila tidak segera memfasilitasi layanan,” ungkap Wagub.
Ia menyatakan program Berani Sehat yang diusung Gubernur Anwar Hafid dan dirinya sejak awal bukan sekadar jargon, tetapi merupakan tekad politik dan moral agar semua warga Sulawesi Tengah dapat ditangani di dalam provinsi sendiri.
“Kami tidak ingin ada lagi warga Sulawesi Tengah yang harus keluar daerah hanya karena fasilitas atau dokter tidak ada. Semua tindakan medis harus bisa dilakukan di rumah sakit kita sendiri,” tegasnya.
Wagub juga menyampaikan bahwa setelah layanan bedah jantung, Pemprov Sulteng akan fokus membenahi layanan stroke, kanker, dan neonatal, termasuk pembangunan gedung baru dan pengadaan peralatan penunjang. Ia menyebut bahwa seluruh efisiensi perjalanan dinas dilakukan untuk mendukung investasi pada sektor kesehatan.
dr. Reny juga menegaskan bahwa Sulteng akan serius mencetak dokter spesialis dan subspesialis melalui program beasiswa fellowship, dengan satu syarat utama: tidak boleh pindah dari Sulteng.
“Kami sudah koordinasi dengan Pak Menteri, agar SIP (Surat Izin Praktik) tidak dikeluarkan bila dokter pindah dari Sulteng. Ini bentuk ikatan moral dan keberpihakan kepada daerah,” ujarnya.
Wagub menutup sambutannya dengan harapan agar Menkes kembali mengunjungi daerah-daerah lain di Sulawesi Tengah, dan terus memberi dukungan terhadap pengembangan layanan kesehatan provinsi.
Saat berkunjung ke RSUD Undata Palu, Menkes didampingi Wakil Gubernur Sulawesi Tengah sekaligus ‘Gubernur Kesehatan’ Provinsi, dr. Reny A. Lamadjido, Plt. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, Wayan Apriani, serta Direktur RSUD Undata Palu, dr. Hery Mulyadi.**
