Banggai Menyimpan Kekayaan LTJ, Presiden; Akan Dikelola untuk Modernisasi Alutsista

Ekobis, Headline1516 Dilihat

BANGGAI, sultengtoday.id – Kabupaten Banggai menjadi satu-satunya daerah di Provinsi Sulteng yang menyimpan potensi Logam Tanah Jarang (LTJ) atau Rare Earth Element (REE). Belum diketahui pasti berapa deposit LTJ di daerah itu.

Tetapi, berdasarkan buku pemetaan yang dibuat Badan Geologi Kementerian ESDM pada 2019, sumber daya LTJ banyak dijumpai di lokasi kaya sumber daya timah.

Seperti Kabupaten Banggai, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, selatan Kalimantan Barat, Parmonangan (Sumatera Utara), Ketapang (Kalimantan Barat) dan Taan (Sulawesi Barat).

Presiden Prabowo Subianto mengaku bersyukur, karena Indonesia dikaruniai “harta karun super langka” alias Logam Tanah Jarang (LTJ) atau Rare Earth Element (REE). Mineral kritis ini bisa digunakan untuk memodernisasi alat sistem pertahanan bangsa ini. Dengan adanya potensi logam tanah jarang di negeri ini, dia pun menegaskan sumber daya alam ini harus dikelola sebaik-baiknya.

“Kita harus kuasai, kendalikan membela dan mengelola semua kekayaan bangsa Indonesia. Untuk itu, kita harus modernisasi alat sistem pertahanan, memperkuat komponen cadangan kita. Kita berdayakan industri strategis nasional, serta kesejahteraan prajurit bangsa. Alhamdulillah yang Maha Kuasa telah memberi karunia kita, kita memiliki mineral-mineral, yang disebut tanah jarang, rare earth kita punya semua rare earth di dunia kita miliki,” jelas Presiden Prabowo saat menyampaikan Pidato RUU APBN 2026 dan Nota Keuangan dalam Rapat Paripurna DPR RI, Jumat, 15 Agustus 2025.

Sementara itu, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan pemerintah akan mempercepat kegiatan eksplorasi logam tanah jarang agar memberikan manfaat bagi Indonesia.

Indonesia kata Tri, memiliki sekira 28 lokasi yang menyimpan mineral logam tanah jarang yang berpotensi untuk dilanjutkan eksplorasinya.

LTJ merupakan salah satu dari mineral strategis dan termasuk critical mineral yang terdiri dari kumpulan 17 unsur kimia pada tabel periodik, terutama 15 lantanida ditambah skandium dan yttrium.

Unsur-unsur tersebut sangat berperan dalam pengembangan industri maju berbasis teknologi, di antaranya sektor energi, pertanahan, komunikasi, penerbangan, baterai, hingga elektronik.

Penggunaan logam tanah jarang ini memicu berkembangnya material baru yang berdampak terhadap perkembangan teknologi yang cukup signifikan dalam ilmu material.

Perkembangan material ini banyak diaplikasikan di dalam industri guna meningkatkan kualitas produk, seperti magnet.

Logam tanah jarang menghasilkan neomagnet yang memiliki medan magnet lebih baik ketimbang magnet biasa, sehingga memungkinkan perkembangan teknologi berupa penurunan berat dan volume speaker dan munculnya dinamo yang lebih kuat hingga mampu menggerakkan mobil.

Pemanfaatan logam tanah jarang mampu menjadikan mobil hybrid bertenaga listrik dapat menempuh perjalanan jauh, sehingga komoditas ini memiliki nilai yang sangat strategis bagi industri masa depan.

Tri mengungkapkan, China merupakan negara produsen logam tanah jarang terbesar di dunia dengan angka produksi 84 persen, lalu disusul Australia 11 persen, Rusia dua persen, India dan Brazil satu persen, kemudian sisanya negara-negara lain yang jumlahnya sedikit.

Menurut dia, Indonesia termasuk bagian dari negara yang memiliki sedikit sumber daya logam tanah jarang.

Meski demikian, pemerintah akan memaksimalkan potensi tersebut agar bisa menjadi sumber energi yang dapat menggerakkan ekonomi nasional di masa depan.

Lebih lanjut dia menyampaikan timah menjadi salah satu jenis mineral yang saat ini menjadi fokus pemerintah, karena mengandung logam tanah jarang dan mineral-mineral ikutan yang banyak diperbincangkan publik.

Di Indonesia ada beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang aktif terlibat untuk kegiatan pemanfaatan logam tanah jarang, di antaranya PT Dirgantara Indonesia, PT PAL, PT Pindad, PT Dahana, PT Krakatau Steel, PT Barata Indonesia, PT Boma Bisma indra, PT KAI, PT Telkom, serta perusahaan elektronika lainnya.**