DAYA SAING LULUSAN DAN MASA DEPAN BANGSA

Headline, Opini1133 Dilihat

SUPARMAN *)

DI TENGAH arus perubahan global yang bergerak sangat cepat, melampaui kecepatan prediksi manusia, perguruan tinggi menghadapi pertaruhan besar: bagaimana memastikan lulusan tidak hanya siap bekerja, tetapi juga siap memimpin perubahan.

Persoalan ini tidak semata urusan kurikulum, bukan sekadar laporan akreditasi, dan bukan pula rutinitas akademik tahunan. Ini adalah persoalan masa depan bangsa.

Kualitas manusia Indonesia hari ini, menentukan kualitas negeri esok hari. Karena itu, daya saing lulusan perguruan tinggi adalah isu strategis yang menuntut perhatian serius dan urgen.

Pertanyaan mendasarnya ialah: apakah lulusan perguruan tinggi Indonesia benar-benar kompetitif dan dapat bersaing di panggung global?

Pertanyaan ini menjadi penting ketika dunia bergerak menuju era ekonomi digital, otomatisasi, kecerdasan buatan, mobilitas tenaga kerja antar kawasan, dan disruptif teknologi di hampir seluruh sektor. Dunia tidak menunggu.

Dalam dunia yang serba cepat, mereka yang tidak adaptif dan tidak mampu menghadapi arus perubahan akan perlahan ditinggalkan. Mereka akan terlindas oleh derasnya perubahan.

Dulu, ketika ijazah menjadi tiket utama memasuki dunia kerja, dunia usaha dan dunia industri. Kini, arah perekrutan telah berubah dari degree-based hiring menjadi skills-based hiring.

Gelar tidak lagi menjadi penentu utama, yang dihargai adalah kompetensi nyata. Gelar tidak lagi menjadi prasyarat utama. Kompetensi menjadi ukuran utama dapat diterima bekerja.

Tak ketinggalalan, tokoh pendidikan dunia, Howard Gardner, pernah menegaskan bahwa masa depan adalah milik mereka yang menguasai beragam kecerdasan, bukan hanya kecerdasan akademik.

Pesan ini sejalan dengan tuntutan kemampuan abad 21 yang menekankan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, dan literasi digital.

Mahasiswa harus dibentuk dan didesain, bukan hanya untuk memahami teori, tetapi untuk mampu memecahkan persoalan empirik. Dunia kerja membutuhkan problem solver, bukan sekadar penghafal konsep.

Nafas Daya Saing Baru

Di berbagai negara, perguruan tinggi telah berevolusi menjadi pusat inovasi, tempat ide-ide baru tumbuh dan riset menjadi tulang punggung kemajuan.

Di Indonesia, transformasi semacam ini harus dipercepat. Kita masih terseok-seok menjadi pusat inovasi dan kreativitas.

Lulusan perguruan tinggi tidak cukup hanya siap bekerja, mereka harus siap menciptakan pekerjaan. Sebut saja misalnya start-up, inovasi teknologi, aplikasi digital, hingga penelitian terapan adalah bagian dari ekosistem baru yang harus dibangun perguruan tinggi.

Ketika mahasiswa hanya hidup dari ruang kuliah dan materi teoretis, mereka sekedar hanya menjadi konsumen pengetahuan.

Namun, saat mereka terlibat dalam proyek-proyek riset, proyek industri, magang industri, dan kompetisi inovasi, mereka berubah menjadi produsen pengetahuan.

Di titik inilah daya saing lulusan meningkat secara signifikan.

Salah satu persoalan struktural yang masih menghambat dan membelenggu daya saing lulusan, adalah jurang pemisah antara pola pikir kampus dan kebutuhan industri.

Perubahan kurikulum sering terlambat mengikuti dinamika teknologi yang melompat tinggi. Dunia kerja membutuhkan kelincahan, tetapi birokrasi akademik kerap berjalan sebaliknya. Bahkan, kadang macet untuk mengejar perubahan di dunia teknologi.

Tokoh pendidikan kreatif, Sir Ken Robinson, memberikan peringatan yang sangat relevan. Sistem pendidikan yang kaku dan tidak lincah, akan menghasilkan generasi yang tidak siap menghadapi dunia yang cair.

Peringatan ini menjadi cermin bagi banyak perguruan tinggi yang masih enggan berubah. Semua ekosistem harus berubah mulai dari pimpinan sampai pelaksana. Dosen dan tenaga kependidikan harus mengubah mindset dan pola pikir.

Sebuah keniscayaan, adanya kemitraan strategis antara kampus dan dunia industri bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

Industri harus ikut aktif terlibat dalam menyusun kurikulum, menjadi mitra dalam pendidikan dan pengajaran, menyediakan tantangan nyata, serta berkolaborasi dalam penelitian dan rekrutmen.

Karakter sebagai Fondasi Dasar

Kecakapan teknis memang penting, tetapi karakter adalah fondasi daya saing yang tidak dapat digantikan teknologi apa pun.

Integritas, etika, tanggung jawab, disiplin, dan kepedulian sosial adalah nilai yang menentukan kualitas lulusan dalam jangka panjang.

Tokoh pendidikan humanis, Nel Noddings, mengingatkan bahwa tujuan tertinggi pendidikan adalah membentuk manusia yang peduli dan bertanggung jawab. Karakter bukan hasil dari mata kuliah, tetapi hasil dari kultur.

Kampus yang sehat akan melahirkan lulusan yang sehat pula. Kecerdasan buatan, robotik, dan big data mengubah wajah dunia kerja. Banyak pekerjaan hilang, banyak pula muncul baru.

Di tengah badai perubahan ini, kemampuan belajar ulang menjadi penentu utama.

Yuval Noah Harari menekankan bahwa kemampuan belajar ulang adalah keterampilan paling penting di masa depan.

Lulusan yang mudah belajar ulang akan tetap relevan, yang enggan belajar akan tertinggal.

Universitas Tadulako berharap menjadi bagian penting dari perjalanan besar itu.

Untad harus menjadi pusat kecemerlangan yang melahirkan manusia-manusia terbaik bagi Indonesia.

Sebab masa depan bangsa sesungguhnya sedang dipahat di ruang kuliah, laboratorium, studio, dan perpustakaan kita hari ini.

*) Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universita Tadulako