Terbukanya Penerbangan Guangzhou-Palu, Perspektif Ekonomi Berbasis Kearifan Lokal “Nuapa Rakenita, Nuapa Rakavata”

Headline, Opini169 Dilihat

Dr. H. Suaib Djafar, M.Si, Maestro Budayawan Kaili

TERBUKANYA penerbangan Guangzhou–Bandara Mutiara SIS Aljufri Palu, Sulawesi Tengah, bukan sekadar terbukanya konektivitas transportasi udara, tetapi merupakan pintu gerbang terbukanya peluang ekonomi, perdagangan, pariwisata, investasi, dan pertukaran budaya antara Sulawesi Tengah dengan pasar internasional.

Momentum ini harus dijawab dengan pertanyaan sederhana dalam kearifan lokal:“Nuapa Rakenita Hilau?” — Produk apa yang kita bawa ke sana?“Nuapa Rakavata?” — Apa yang kita dapatkan dari sana?

Pertanyaan tersebut menjadi cara pandang agar Sulawesi Tengah tidak hanya menjadi daerah tujuan pasar, tetapi mampu menjadi daerah penghasil produk bernilai tambah yang mampu bersaing di pasar global.

CAN: Culture, Agriculture, Natural

Sulawesi Tengah memiliki kekayaan yang luar biasa, baik berupa Culture, Agriculture, dan Natural (CAN).

Culture adalah kekayaan budaya: bahasa, adat, seni, kerajinan, kuliner, tenun, tradisi, serta nilai-nilai kearifan lokal. Agriculture adalah kekuatan pertanian dan perkebunan: kakao, kelapa, kopi, cengkeh, hortikultura, perikanan, serta berbagai komoditas unggulan masyarakat. Natural adalah kekayaan alam: laut, pesisir, pulau-pulau, destinasi wisata, mineral, dan sumber daya alam lainnya.

CAN bukan sekadar potensi. CAN harus diubah menjadi produk, jasa, pengalaman, dan nilai tambah ekonomi.

We Can do it — Kami Bisa Berbuat

Semangat “We Can Do It — Kami Bisa Berbuat” merupakan keyakinan bahwa masyarakat Sulawesi Tengah tidak hanya memiliki kekayaan sumber daya, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengolahnya menjadi kekuatan ekonomi.

Untuk itu diperlukan pendekatan O2H: Otak, Otot, dan Hati, yang dalam perspektif nilai Kaili dapat dimaknai sebagai: Unto — Otak

Menggunakan kecerdasan, pengetahuan, kreativitas, inovasi, dan kemampuan membaca peluang. Otak adalah anugerah Allah SWT yang harus digunakan untuk merancang dan mendesain produk agar memiliki kualitas dan nilai tambah.

Dota — Otot

Kecerdasan harus dibarengi dengan kemauan untuk bekerja. “Ne Mabuto” — jangan malas. Bekerja dengan sungguh-sungguh, disiplin, ikhlas, penuh tanggung jawab, jujur, dan amanah.

Rara — Hati

Setiap usaha harus dikendalikan dengan hati yang bersih. Bekerja bukan hanya mengejar keuntungan, tetapi membangun keberkahan. Nilai Nosimpoasi mengajarkan saling menghargai, sedangkan Nosipeili mengajarkan kepedulian terhadap sesama.

Dari Sumber Daya Menjadi Nilai Tambah

Penerbangan langsung menuju Guangzhou harus menjadi momentum untuk mengubah pola pikir: “Apa yang kita punya?” menjadi “Apa yang dapat kita hasilkan?” Bahan mentah jangan berhenti sebagai komoditas.

Kakao dapat diolah menjadi cokelat dan produk turunannya. Hasil perkebunan dapat dikembangkan menjadi produk olahan dan kemasan premium. Kekayaan laut dapat menjadi produk pangan bernilai tambah. Budaya dapat dikembangkan menjadi ekonomi kreatif. Tenun dan kerajinan dapat menjadi produk fesyen dan cenderamata. Keindahan alam dapat dikembangkan menjadi pengalaman wisata yang berkualitas.

Dengan demikian, yang kita bawa ke Guangzhou bukan hanya bahan mentah, tetapi produk unggulan Sulawesi Tengah yang memiliki identitas, kualitas, cerita budaya, dan nilai ekonomi.

Sebaliknya, “Nuapa Rakavata?” bukan semata-mata apa yang kita beli atau datangkan, tetapi juga pengetahuan, teknologi, jaringan pasar, investasi, pengalaman, inovasi, dan kerja sama yang dapat memperkuat kapasitas masyarakat Sulawesi Tengah.

Mosangu Morambanga Mom Bangu Ngata

Inilah semangat “Mosangu Morambanga Mombangu Ngata” — bersama-sama membangun daerah.Pemerintah, dunia usaha, masyarakat adat, pelaku UMKM, petani, nelayan, perajin, akademisi, generasi muda, dan diaspora harus menjadi bagian dari ekosistem ekonomi baru.

Kita membangun bukan dengan meninggalkan jati diri, tetapi menjadikan kearifan lokal sebagai kekuatan untuk memasuki pasar global. Guangzhou dapat menjadi salah satu pintu menuju dunia. Namun yang menentukan keberhasilan bukan hanya pesawat yang terbang dari Palu, melainkan produk apa yang kita siapkan, kualitas apa yang kita tawarkan, nilai apa yang kita bawa, dan manfaat apa yang kembali kepada masyarakat.

Karena itu, mari kita jawab bersama:Nuapa Rakenita Hilau? Apa yang kita bawa ke sana? Nuapa Rakavata? Apa yang kita dapatkan?Jawabannya adalah: kita membawa karya, kualitas, budaya, dan produk bernilai tambah; kita mendapatkan pasar, ilmu, teknologi, investasi, jejaring, dan peluang baru. Dengan CAN — Culture, Agriculture, Natural, diperkuat O2H — Unto, Dota, Rara, dilandasi Nosimpoasi dan Nosipeili, serta semangat We Can Do It — Kami Bisa Berbuat, Sulawesi Tengah dapat bergerak dari daerah yang kaya sumber daya menjadi daerah yang kaya nilai tambah.

Mosangu Morambanga Mombangu Ngata — Bersama kita membangun daerah. Sulteng Nambaso — maju ekonominya, kuat budayanya, lestari alamnya, dan sejahtera masyarakatnya.

Semoga setiap ikhtiar menjadi amal, setiap kerja menjadi berkah, dan setiap langkah mendapat ridho Allah SWT.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *