Ungkapan Bijak Masyarakat Kaili dalam Perspektif Kemerdekaan Ekonomi

Opini31 Dilihat

Dr. H. Suaib Djafar, M. Si, Maestro Budayawan Kaili

Ane Ledo Kita Mareso Satutumparana Agaveimo, Tonamomajaniomo Kita Momata Miomo”. (Kalau tidak mau bekerja keras, kehidupan kita hanya begini saja. Orang lain telah menuai hasil, kita hanya memandang dengan penuh penyesalan).

Ungkapan bijak masyarakat Kaili ini mengandung pesan yang sangat kuat tentang etos kerja, kemandirian, tanggung jawab, dan perjuangan untuk mencapai kemerdekaan ekonomi.

Ungkapan tersebut mengajarkan bahwa kehidupan yang lebih baik tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus diperjuangkan melalui kerja keras, ketekunan, keberanian mengambil peluang, dan kemauan untuk terus belajar.

Kalimat “Ane Ledo Kita Mareso” menegaskan bahwa tanpa kemauan untuk bekerja keras, seseorang akan sulit mengalami perubahan kehidupan.

Kemerdekaan ekonomi bukan sekadar memiliki penghasilan, tetapi kemampuan untuk berdiri di atas kekuatan sendiri, mengelola potensi yang dimiliki, menciptakan nilai tambah, serta meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat.

Sementara itu, ungkapan “Tona Momajaniomo Kita Momata Miomo” memberikan refleksi tentang akibat ketika seseorang tidak mau berusaha. Ketika orang lain telah bekerja, menghasilkan, dan menikmati buah perjuangannya, kita hanya menjadi penonton yang melihat keberhasilan itu dengan penyesalan. Maknanya bukan untuk menyalahkan keadaan, tetapi menjadi peringatan agar tidak menyia-nyiakan kesempatan.

Dalam perspektif pembangunan ekonomi Sulawesi Tengah, nilai ini sangat relevan untuk mendorong masyarakat agar tidak hanya menjadi konsumen, tetapi berkembang menjadi produsen, pelaku usaha, pencipta lapangan kerja, dan pengolah sumber daya lokal menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Pertanian, perikanan, perkebunan, kerajinan, kuliner, pariwisata, dan ekonomi kreatif dapat menjadi ruang nyata untuk menerapkan semangat tersebut.

Kearifan lokal Kaili juga mengajarkan bahwa kerja keras tidak berarti bekerja sendiri. Semangat Nolunu (gotong royong), Nosimpoasi (saling menghargai dan membantu), serta Libu (musyawarah) dapat menjadi kekuatan sosial untuk membangun ekonomi yang inklusif. Dengan demikian, kemerdekaan ekonomi tidak hanya dimaknai sebagai keberhasilan individu, tetapi sebagai kemajuan bersama yang menghadirkan kesejahteraan bagi keluarga, komunitas, dan daerah.

Ungkapan ini pada akhirnya merupakan ajakan untuk bangkit dari sikap pasif menuju produktif; dari hanya melihat keberhasilan orang lain menjadi pelaku keberhasilan; dari menjual bahan mentah menuju hilirisasi; dan dari ketergantungan menuju kemandirian ekonomi.

Filosofi utamanya: Jangan hanya menjadi penonton ketika orang lain memanen hasil. Bekerjalah, berusahalah, ciptakan nilai, dan jadilah bagian dari mereka yang menanam, merawat, serta memanen hasil perjuangan sendiri.

Dalam semangat “Mosangu Morambanga, Mombangu Ngata”, ungkapan ini dapat menjadi salah satu fondasi karakter ekonomi masyarakat: bekerja keras, mandiri, produktif, inovatif, dan membangun kesejahteraan bersama menuju Sulteng Nambaso.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *