Inflasi Oktober 2025 Optimis Turun, Wagub Sulteng Antisipasi Kenaikan Harga Pangan Jelang Nataru

Ekobis, Headline699 Dilihat

PALU, Sulteng Today – Beberapa bulan terakhir masyarakat Sulawesi Tengah menghadapi kenyataan pahit.

Harga kebutuhan pokok seperti beras mengalami kenaikan. Di saat bersamaan, nilai tukar rumah tangga petani justru turun tajam.

Di bulan September 2025 misalnya, inflasi di Provinsi Sulawesi Tengah masuk urutan lima besar nasional.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi di bulan tersebut kokoh di angka 3,88 persen.

Namun, warga Sulteng tidak perlu ragu atau khawatir, terhadap ancaman kenaikan harga di bulan mendatang.

Pemerintah Provinsi Sulteng yang dipimpin Gubernur Anwar Hafid, dan Wakil Gubernur dr. Reny A. Lamadjido bekerja siang malam. Berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota guna memastikan, bahwa inflasi bisa ditekan. Dan bahan makanan, terutama beras bisa dibeli warga dengan harga terjangkau.

Wakil Gubernur Sulteng, dr. Reny A. Lamadjido, Sp.PK., M.Kes optimis inflasi Sulteng akan terkendali sesuai target nasional. Tidak lebih dari 3,5%.

Optimisme ini disampaikan Wagub pada Rapat Pengendalian Inflasi Daerah di ruang polibu, Selasa sore, 14 Oktober 2025.

Rapat diikuti Sekprov Dra. Novalina, M.M, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Irfan Sukarna, BPS Sulteng, Badan Urusan Logistik (Bulog), Organisasi Perangkat Daerah (OPD) beserta distributor dan pedagang beras dari sejumlah pasar di Kota Palu.

Berdasarkan data BPS, inflasi Sulteng September 2025 berada pada 3,88 %, lebih rendah dari Agustus 2025 sebesar 4,02%.

Walau sudah turun tapi angkanya masih di atas target nasional, karena itu Wagub kembali menekankan, pentingnya kolaborasi dan sinergitas multipihak sebagai kunci utama pengendalian inflasi.

“Sudah lebih bagus daripada Agustus tapi (September) kita masih masuk 5 besar nasional,” ungkapnya.

Fokus utama tertuju pada beras yang jadi langganan penyumbang kenaikan inflasi Sulteng belakangan ini.

Apalagi jelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), Wagub memprediksi komoditi lain seperti telur ayam akan ikut memicu inflasi selain beras.

Hal ini urainya, disebabkan kenaikan permintaan telur ayam sebagai bahan baku kue-kue khas Nataru.

Terkait dengan komoditi beras, Kepala Perwakilan BI Irfan Sukarna mengungkapkan anomali, bahwa Sulteng sebagai daerah produsen beras yang surplus justru kesulitan mengendalikan harga komoditi ini di tingkat lokal.

Pasokan beras Sulteng yang banyak dialirkan ke daerah-daerah lain seperti Gorontalo, Sulawesi Utara hingga ke Maluku Utara adalah muara masalah yang harus cepat diatasi.

Olehnya itu, kebijakan dari kepala daerah untuk sementara waktu membatasi pengiriman beras secara masif ke luar wilayah Sulteng mesti dilakukan.

Langkah ini diyakini dapat meredam gejolak harga di pasar domestik, khususnya jelang momen Nataru.

“Oktober ini masa panen, tinggal dijaga (beras Sulteng) jangan sampai banyak keluar daerah,” sarannya.

Selain itu, direkomendasikan pula langkah-langkah strategis seperti peningkatan frekuensi sidak pasar, pelaksanaan gerakan pangan murah/pasar murah, penguatan data neraca pangan serta koordinasi yang lebih intens antarpihak.

Menanggapi usulan ini, Wagub Reny akan mengagendakan rapat lanjutan dengan 4 pemerintah kabupaten/kota yang jadi indikator perhitungan inflasi Sulteng yakni Kota Palu, Kabupaten Banggai, Morowali dan Tolitoli.

“Semoga akhir tahun tidak ada kenaikan tajam,” pungkas Wagub melalui rilis yang dikirimkan Biro Adpim Setdaprov Sulteng.**

editor. moh. habil masri

Komentar