Geopark Danau Poso dalam Perspektif Sintuvu Maroso

Opini12 Dilihat

Dr. H. Suaib Djafar, M.Si, Maestro Budayawan Sulteng

GEOPARK Danau Poso bukan hanya kawasan yang memiliki keunikan geologi dan keindahan alam, tetapi merupakan ruang kehidupan yang mempertemukan alam, manusia, budaya, dan pembangunan berkelanjutan.

Dalam perspektif kearifan lokal, pengembangan Geopark Danau Poso dapat diletakkan pada nilai Sintuvu Maroso, yaitu semangat hidup bersama dalam kebersamaan yang kuat, saling menghargai, saling membantu, dan membangun kehidupan secara harmonis.

Sintuvu Maroso sebagai Filosofi Pengembangan

Sintuvu mengandung gagasan tentang kebersamaan, persatuan, dan kehidupan yang saling terhubung. Sementara Maroso menggambarkan kekuatan atau keteguhan. Dengan demikian, Sintuvu Maroso dapat dimaknai sebagai kekuatan yang lahir dari persatuan dan kebersamaan.

Nilai tersebut sangat relevan dengan prinsip geopark, karena keberhasilan pengelolaan kawasan tidak dapat hanya bertumpu pada pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan masyarakat adat, masyarakat lokal, pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan generasi muda sebagai satu kesatuan.

1. Alam sebagai Warisan Bersama

Danau Poso dan kawasan sekitarnya merupakan warisan alam yang memiliki nilai ekologis, geologis, sosial, dan budaya. Perspektif Sintuvu Maroso menempatkan alam bukan sekadar objek wisata atau sumber ekonomi, tetapi sebagai titipan bersama yang wajib dijaga untuk generasi sekarang dan generasi mendatang. Karena itu, pembangunan geopark harus mengedepankan perlindungan ekosistem danau, hutan, keanekaragaman hayati, sumber air, serta bentang alam yang menjadi identitas kawasan.

2. Kearifan Lokal sebagai Kekuatan Geopark

Geopark akan memiliki karakter yang kuat apabila pengelolaannya tidak memisahkan unsur alam dari kehidupan masyarakat. Tradisi, bahasa, seni, pengetahuan lokal, cerita rakyat, kuliner, kerajinan, ritual, dan sejarah masyarakat di sekitar Danau Poso merupakan bagian penting dari warisan budaya yang hidup.

Nilai Sintuvu Maroso dapat menjadi landasan untuk menghidupkan kembali kearifan lokal tersebut melalui pendidikan, festival budaya, ekowisata, ekonomi kreatif, dan pemberdayaan masyarakat.

3. Masyarakat sebagai Pelaku Utama

Dalam perspektif Sintuvu Maroso, masyarakat bukan hanya penonton pembangunan, tetapi menjadi pelaku dan pemilik manfaat pembangunan. Pengembangan geopark dapat membuka ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan: desa wisata berbasis budaya dan alam; pemandu wisata lokal; UMKM dan ekonomi kreatif; produk kuliner khas;kerajinan dan seni budaya; homestay masyarakat;wisata edukasi geologi dan lingkungan;pertanian dan perikanan berkelanjutan. Dengan demikian, geopark menjadi instrumen untuk menciptakan ekonomi lokal yang inklusif dan berkeadilan.

4. Sintuvu Maroso untuk Memperkuat Kolaborasi

Pengelolaan Geopark Danau Poso memerlukan model kolaborasi pentahelix, yaitu pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, dan media/komunitas.

Semangatnya adalah:“Mosintuvu kita, maroso pembangunan; mosimpotove kita, maroso pelestarian; mosimpoasi kita, maroso kesejahteraan.”Artinya, ketika kita bersatu, pembangunan menjadi kuat; ketika kita saling menghargai, pelestarian menjadi kuat; dan ketika kita saling membantu, kesejahteraan menjadi kuat.

5. Geopark sebagai Ruang Pendidikan

Danau Poso dapat dikembangkan sebagai laboratorium alam dan budaya bagi generasi muda. Peserta didik dapat belajar secara langsung mengenai geologi, ekologi danau, keanekaragaman hayati, sejarah, bahasa, adat, serta kebudayaan masyarakat setempat. Dengan demikian, geopark tidak hanya menghasilkan wisatawan, tetapi juga melahirkan generasi yang mengenal, mencintai, dan bertanggung jawab terhadap daerahnya.

6. Menuju Pembangunan Berkelanjutan

Perspektif Sintuvu Maroso memberikan pesan bahwa pembangunan tidak boleh mempertentangkan ekonomi, lingkungan, dan budaya. Ketiganya harus berjalan bersama.

Geopark Danau Poso idealnya menjadi model pembangunan yang alamnya lestari → budayanya hidup → masyarakatnya berdaya → ekonominya tumbuh → generasinya berkarakter.

Dengan demikian, Geopark Danau Poso dalam perspektif Sintuvu Maroso dapat dimaknai sebagai sebuah gerakan bersama untuk menjadikan kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, dan warisan budaya sebagai fondasi pembangunan yang berkelanjutan.

Sintuvu Maroso bukan sekadar ungkapan budaya, tetapi dapat menjadi filosofi tata kelola geopark: menyatukan manusia dengan alam, masyarakat dengan pemerintah, budaya dengan pembangunan, serta generasi sekarang dengan generasi yang akan datang. “Mosintuvu Maroso, Mbajagai Pangale Geopark; Mosimpotove, Mosimasei Mompakavoe Posampesuvuta ; Mosimpoasi, Mosangu Morambanga Mombangu Ngata Sulteng Nambaso Bersatu kita kuat, menjaga alam dan budaya; bersama kita membangun Geopark Danau Poso menuju pariwisata berkelanjutan dan kesejahteraan. “Maroso Ada, Maroso Agama, Maroso Pamarentah” Maamangata Nadeabelona (Adat Kuat, Agama Kuat, Pemerintah Kuat Aman Damai Negeri Melimpah Kebaikan).***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *