KAMPUS SEBAGAI MESIN RISET PARIWISATA

Headline, Opini1008 Dilihat

SUPARMAN*)

KOTA Lombok, Nusa Tenggara Barat. Kota tepian pantai itu kembali menjadi ruang lahirnya gagasan strategis bagi masa depan pariwisata Indonesia.

Dalam Kongres Besar Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (AFEBI) XIII Tahun 2025, bertema “Kampus Berdampak untuk Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan” yang digelar pada 27 November 2025.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Brian Yulianto, yang didapuk sebagai pembicara kunci, menyampaikan pesan yang menggugah dan menarik.

Kampus harus menjadi magnet baru pariwisata di Indonesia. Dimana terjadi pergeseran paradigma dunia wisata, dimana daya tarik destinasi tidak lagi hanya ditentukan oleh keindahan alam dan kekayaan budaya.

Ada kecenderungan baru, wisatawan mancanegara kini memilih destinasi yang memiliki fondasi riset kuat, tata kelola berbasis data, pelayanan berkualitas, pengalaman autentik, serta komitmen nyata terhadap keberlanjutan lingkungan dan sosial.

Resep jitu untuk menang dalam persaingan di pasar global, pariwisata Indonesia membutuhkan kontribusi riset yang berkualitas dan bermutu tinggi dari kampus.

Kampus harus mampu pencetak gagasan dan inovasi baru. Kampus harus dapat menemukan masalah dan solusi atas pembangunan pariwisata di Indonesia.

Pernyataan ini muncul pada momentum yang tepat. Setelah terpukul oleh pandemi, tren kunjungan wisatawan mancanegara menunjukkan rebound yang sangat kuat sejak Tahun 2022, dan  berdasarkan data terus meningkat hingga 2024. Namun pemulihan ini tidak boleh disambut dengan euforia semata.

Masa ini harus menjadi titik awal transformasi pariwisata Indonesia menuju model yang lebih hijau, inklusif, dan berbasis pengetahuan.

Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) mencatat bahwa 2024–2025 merupakan periode perubahan perilaku wisatawan global. Sekretaris Jenderal UNWTO, Zurab Pololikashvili (2023), menyatakan bahwa masa depan pariwisata tidak akan ditentukan oleh jumlah kunjungan, tetapi oleh kemampuan destinasi menjaga keberlanjutan lingkungan, sosial, dan ekonomi secara simultan.

Rilis yang dikeluarkan World Travel & Tourism Council (WTTC) 2024 yang menyebutkan data-data penting pariwisata. Menurut lembaga itu, sedikitnya 70 persen wisatawan global memilih destinasi berkomitmen pada keberlanjutan, 76 persen bersedia membayar lebih untuk pengalaman wisata ramah lingkungan, 65 persen menilai interaksi autentik dengan masyarakat lokal sebagai faktor utama kepuasan perjalanan. 

Kondisi ini menunjukkan pergeseran besar dalam orientasi wisata global. Dari sekadar rekreasi menuju pengalaman bermakna dan bertanggung jawab.

Wisatawan tidak hanya ingin datang, tetapi ingin belajar, terlibat, dan memastikan bahwa keberadaan mereka memberikan manfaat bagi masyarakat setempat.

Kondisi ini tentu sangat relevan dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan. Data yang dirilis Indonesia Tourism Outlook 2025/2026, menegaskan bahwa pariwisata berkelanjutan kini menjadi fokus utama karena tiga alasan: meningkatnya kesadaran wisatawan terhadap lingkungan, kebutuhan distribusi manfaat yang lebih merata, serta tekanan ekologis pada destinasi populer.

Wisata Bali, Mandalika, Labuan Bajo, hingga Raja Ampat mulai merasakan tekanan ekologis, akibat pertumbuhan wisata yang tidak seimbang.

Terumbu karang rusak, sampah meningkat, dan komunitas lokal terpinggirkan dari ruang ekonomi. Di titik ini, kampus hadir sebagai magnet baru.

Menarik Wisatawan, Menjaga Indonesia

Menteri Brian, menegaskan kampus memiliki tiga kekuatan yang tidak dimiliki aktor lain dalam ekosistem pariwisata: pusat ilmu pengetahuan, pusat riset dan analitik, dan pusat dampak dan inovasi. Ketiganya dapat menjadikan kampus sebagai mesin transformasi pariwisata.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), khususnya, dianggap memiliki posisi strategis dalam merancang model bisnis pariwisata yang adil, inklusif, dan berbasis bukti.

FEB tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga menyediakan riset, analisis kebijakan, dan inovasi yang dibutuhkan pemerintah daerah dan industri.

David Weaver (2023), salah satu tokoh terkemuka dalam studi pariwisata berkelanjutan, menyatakan bahwa pariwisata masa depan ditopang oleh interaksi kreatif antara akademisi, pemerintah, industri, dan komunitas.

Pandangan ini menjelaskan mengapa kampus harus menjadi aktor kunci dalam mendesain transformasi pariwisata Indonesia.

Tugas dan tanggung jawab lembaga pendidikan tinggi, setidaknya dapat memperhitungkan carrying capacity destinasi, membuat model ekonomi komunitas, implementasi wisata edukasi berbasis riset, memetakan dampak lingkungan, membuat inovasi layanan pariwisata, dan bahkan melahirkan evidence based policy advisory.

Tentu saja tanpa riset dan data pariwisata yang berkualitas, pembangunan pariwisata hanya akan menjadi proyek jangka pendek yang rentan dan menimbulkan kerusakan jangka panjang.

Sebagai bagian dari warga akademik yang strategis, FEB harus menjadi lokomotif pendapatan kampus. Dimana, untuk kampus dengan status BLU dan PTNBH, yang dituntut harus mampu meningkatkan pendapatan non-APBN, meningkatkan layanan akademik bernilai tinggi antara lain executive education, micro-credentials, konsultan kebijakan, data lab, dan jasa ESG yang dapat menjadi sumber pendapatan baru dan penting, sekaligus memberikan dampak nyata bagi pemerintah daerah dan sektor pariwisata.

Secara sadar kita akui, jika FEB yang kuat bukan hanya mengangkat kampus, tetapi mengangkat bangsa. 

Pernyataan ini menandai arah baru pendidikan tinggi Indonesia: kampus tidak lagi hanya menjadi penyedia lulusan, tetapi pusat inovasi dan penggerak ekonomi daerah.

Persaingan pariwisata regional dan kawasan Asia kini semakin ketat.  Dimana negara seperti Thailand, Malaysia, hingga Vietnam bergerak agresif membangun destinasi hijau yang berkualitas dan berorientasi pengalaman.

Jika Indonesia tidak berhasail menata ulang strategi yang tepat, tentu kita berpotensi kehilangan pangsa pasar wisatawan global.

Richard Butler (2022), penggagas Tourism Area Life Cycle, mengingatkan kita semua, bahwa destinasi yang gagal mengelola pertumbuhan wisata akan mengalami kejenuhan, penurunan kualitas layanan, dan kerusakan lingkungan. Destinasi yang tidak mengupayakan keberlanjutan akan kehilangan daya tariknya,” ujarnya.

Indonesia memiliki modal luar biasa: kekayaan budaya, keanekaragaman hayati, dan keramahtamahan masyarakat. Namun modal itu hanya akan menjadi magnet wisatawan jika dikelola dengan pengetahuan, riset, dan tata kelola yang tepat. Di sinilah kampus memegang peran strategis, bukan hanya sebagai pengamat, tetapi sebagai aktor perubahan.

Pertemuan nasional melalui momentum Kongres AFEBI XIII secara ruang untuk menyatukan visi FEB se-Indonesia sebagai penggerak ilmu, data, dan dampak bagi pembangunan ekonomi nasional dalam bidang pariwisata. Integrasi paradigma Kampus Berdampak dapat diwujudkan melalui pengembangan pariwisata berkelanjutan.  Tentu saja, kampus berdampak harus dibarengi kolaborasi lintas kampus, pemerintah daerah, industri, dan komunitas. Dimana, seluruh entitas FEB di Tanah Air, untuk bergerak lebih jauh: memperkuat kapasitas riset, membangun laboratorium kebijakan publik, mengembangkan layanan profesional bernilai tinggi, serta memperluas kemitraan strategis dengan industri pariwisata.

Kampus harus hadir dalam setiap tahap pembangunan pariwisata: perencanaan, implementasi, evaluasi, dan peningkatan kualitas destinasi. Dengan demikian, kampus benar-benar menjadi magnet baru yang menarik wisatawan melalui peningkatan kualitas layanan dan keberlanjutan destinasi.

Indonesia memiliki semua bahan untuk menjadi pemimpin global dalam pariwisata berkelanjutan. Namun semua bahan itu membutuhkan tangan peneliti, pemikir, dan inovator dari kampus untuk menjadi kekuatan yang nyata. Jika kampus berhasil menjalankan peran ini, Indonesia tidak hanya akan menjadi tujuan wisata, tetapi pusat pembelajaran dunia tentang bagaimana pariwisata dapat tumbuh tanpa merusak.

Saat itu tiba, Kampus tidak hanya mencetak sarjana, tetapi mencetak masa depan pariwisata Indonesia. Dan kampus adalah magnet baru yang menarik dunia datang ke negeri ini. Kota Lombok hari ini menjadi saksi awal langkah besar itu. Kampus berdampak bukan slogan semata. Kampus berdampak adalah arah baru pembangunan bangsa.

*) Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tadulako

Komentar