Digitalisasi Untad dan Smart University

Headline, Opini345 Dilihat

Oleh: Prof. Dr. Ir. Amar, ST, MT

PERADABAN selalu ditandai oleh jejak yang ditinggalkan. Dahulu jejak itu terukir pada batu, kemudian beralih ke lembaran kertas, dan kini terekam dalam data yang terus bergerak melintasi jaringan tanpa batas. Kini kita saksikan, perubahan teknologi telah mengubah cara manusia berkerja, belajar dan berinteraksi.

Pakar perubahan, Alfin Toffler pernah mengingatkan bahwa buta huruf abad ke-21 bukanlah mereka yang tidak mampu membaca dan menulis, melainkan mereka yang tidak mampu belajar, melepaskan diri dari cara lama, dan mempelajari cara baru yang terus berubah. Dalam konteks itu, transformasi digital bukan lagi pilihan, melainkan syarat mutlak untuk terus bertahan dan adaptif terhadap perubahan itu sendiri.

Dalam dunia pendidikan tinggi, jejak kemajuan sebuah universitas tidak lagi hanya diukur dari megahnya gedung atau luasnya bangunan kampus,  ruang-ruang kelas yang mentereng, tetapi dari kemampuannya mengelola pengetahuan, pelayanan, dan sumber daya secara cerdas melalui teknologi digital.

Di tengah arus perubahan global yang bergerak semakin cepat itu, Universitas Tadulako (Untad) terus menorehkan satu langkah penting untuk ikut bergerak maju,  melalui peluncuran aplikasi digitalisasi dalam sistem akademik Universitas Tadulako (SIGA-8) yang dikemas dalam satu kerangka teknologi terintegrasi ONE KLIKS.

ONE KLIKS tidak hanya menghubungkan sistem akademi semata, tetapi juga sebagai platform kerja teknologi informasi, jargon proses bekerja, unit penunjang, dan manusia dalam satu ekosistem pelayanan yang terintegrasi. Seperti yang dikemukakan, Matt Mullenweg, teknologi menemukan makna terbaiknya ketika mampu menyatukan manusia dalam tujuan bersama dan  adaptif dengan teknologi informasi.

Kehadiran sistem ONE KLIKS ini, bukan sekadar peluncuran sebuah aplikasi SIGA-8 semata, melainkan penanda lahirnya babak baru transformasi kelembagaan menuju universitas yang modern, adaptif, dan unggul yang ditunjang teknologi informasi yang solid.

Karen itu, Keberhasilan ONE KLIKS pada akhirnya tidak ditentukan oleh kecanggihan perangkat lunak, melainkan oleh kesiapan seluruh civitas akademika Universitas Tadulako untuk mengubah budaya dan pola kerja.  Budaya dan pola kerja lama harus ditanggalkan, jika tidak maka kita akan terus tertinggal dan sekedar menjadi follower.

Untad sadar betul, digitalisasi sesungguhnya bukan perkara perangkat lunak an sich. Digitalisasi adalah soal perubahan cara dan sistem berpikir. Teknologi hanyalah alat semata,  yang terpenting adalah bagaimana manusia menggunakannya, untuk menciptakan nilai tambah dan karya-karya inovatif. Karena itu, peluncuran ONE KLIKS harus dibaca dan penanda, upaya membangun dan mengubah budaya kerja baru yang lebih efektif, lebih efisien, lebih transparan, lebih akuntabel dan tentu saja berbasis data real-time.

Dalam sejarah pendidikan tinggi dunia, universitas-universitas terbaik selalu menjadi pelopor perubahan. Mereka bukan sekedar pengikuti. Universitas harus terdepan memimpin perubahan. Sebuah keniscayaan, ketika revolusi industri mengubah wajah ekonomi global, kampus menjadi pusat lahirnya inovasi dan kreativitas. Ketika era digital datang, universitas kembali menjadi laboratorium perubahan yang menghubungkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan masyarakat. Hari ini, ketika kecerdasan buatan, big data, dan sistem komputasi dengan big-data sudah menjadi fondasi baru peradaban, perguruan tinggi dituntut melakukan transformasi yang lebih mendasar dan lebih cepat.

Pakar manajemen, Peter Drucker pernah mengingatkan bahwa organisasi yang mampu bertahan bukanlah yang paling besar, melainkan yang paling cepat beradaptasi terhadap perubahan. Budaya organisasi selalu lebih menentukan dibanding strategi yang didesain sebaik apa pun. Karena itu digitalisasi harus dibarengi dengan perubahan dan transformasi pola pikir dan budaya kerja. Dalam konteks itulah digitalisasi seharusnya menjadi kebutuhan strategis, bukan lagi pilihan. Universitas yang lambat bertransformasi akan tertinggal, sementara universitas yang mampu memanfaatkan teknologi akan memiliki keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.

ONE KLIKS diharapkan memberikan menjawab kebutuhan tersebut. Integrasi layanan tridharma perguruan tinggi, keuangan, dan kepegawaian dalam satu platform merupakan langkah penting untuk menghapus sekat-sekat birokrasi dan budaya kerja yang selama ini sering memperlambat proses administrasi. Jika bisa dipercepat, kenapa mesti diperlambat. Data yang sebelumnya tersebar, kini dapat terkonsolidasi dalam satu sistem yang lebih akurat dan lebih mudah diakses. Bahkan, lebih mudah untuk dipantau dan dievaluasi.

Lebih dari itu, integrasi data memungkinkan lahirnya tata kelola berbasis bukti (evidence-based governance). Setiap kebijakan dapat dirumuskan berdasarkan data yang valid, bukan sekadar asumsi. Perencanaan menjadi lebih presisi, pengawasan lebih efektif, dan evaluasi kinerja dapat dilakukan secara objektif.

Dalam era digital, data adalah aset strategis. Tak ketinggalan, Geofffrey Moore mengibaratkan organisasi yang baik tidak memanfaatkan data seperti rusa yang berjalan tanpa arah di tengah jalan raya. Karena itu, integrasi data melalui ONE KLIKS sebagai fondasi penting bagi pengambilan kebijakan yang cepat, tepat dan berbasis bukti.

Dalam dunia akademik yang semakin kompetitif, kualitas pengambilan keputusan menjadi faktor yang menentukan. Universitas kelas dunia tidak hanya unggul dalam penelitian dan publikasi, tetapi juga dalam kemampuan mengelola institusi secara profesional. Data menjadi aset strategis yang nilainya setara dengan sumber daya lainnya. Karena itu, pengelolaan data yang terintegrasi merupakan fondasi penting bagi pengembangan universitas masa depan.

Good University Governance

Peluncuran ONE KLIKS juga memiliki makna penting bagi penguatan Good University Governance. Transparansi, akuntabilitas, efektivitas, efisiensi, dan responsibilitas bukan lagi sekadar konsep dan tagline normatif yang tertulis dalam dokumen perencanaan, melainkan dapat diwujudkan melalui sistem digital yang terukur dan handal.

Pada aspek keuangan misalnya, digitalisasi memungkinkan proses perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan pelaporan berjalan secara lebih cepat, lebih transparan dan lebih akuntabel. Setiap aliran anggaran dapat ditelusuri dengan lebih mudah, sehingga meningkatkan kepercayaan publik terhadap institusi. Di era keterbukaan informasi, kepercayaan merupakan modal sosial yang sangat berharga bagi perguruan tinggi. Tanpa kepercayaan publik terhadap institusi perguruan tinggi, lambat atau cepat menara gading itu akan runtuh.

Di bidang kepegawaian, transformasi digital akan mempercepat berbagai layanan administratif, meningkatkan akurasi data, dan memperkuat profesionalisme sumber daya manusia. Dosen dan tenaga kependidikan tidak lagi dibebani proses birokrasi yang panjang sehingga dapat lebih fokus pada tugas utama mereka: menghasilkan pengetahuan, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.

Sementara itu, bagi mahasiswa, digitalisasi menghadirkan pengalaman layanan yang lebih cepat, lebih mudah, dan lebih responsif. Kampus tidak lagi dipahami sebagai ruang fisik semata, tetapi sebagai ekosistem layanan akademik yang dapat diakses kapan saja dan dari mana saja. Inilah wajah baru pendidikan tinggi di era digital. Untad sudah harus berada di posisi ini.

Namun, pengalaman berbagai institusi menunjukkan bahwa keberhasilan transformasi digital di perguruan tinggi tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi semata. Banyak sistem informasi yang gagal bukan karena perangkatnya buruk, tetapi karena penggunanya tidak siap berubah dan tidak mau berubah. Digitalisasi memerlukan komitmen kolektif, kedisiplinan, dan kesediaan untuk meninggalkan kebiasaan lama yang tidak lagi relevan.

Smart University

Pakar Perubahan, John Phillip Kotter, Harvard Business School, menegaskan bahwa transformasi hanya berhasil jika mampu mengubah budaya organisasi. Teknologi dapat dibeli, tetapi budaya harus dibangun. Karena itu, keberhasilan ONE KLIKS pada akhirnya bergantung pada sejauh mana seluruh sivitas akademika Untad menjadikannya sebagai bagian dari budaya kerja sehari-hari.

Di sinilah tantangan terbesar sekaligus peluang terbesar berada. Digitalisasi bukan tujuan akhir, melainkan jembatan menuju universitas unggul. Ia membuka jalan bagi pengembangan smart university yang memanfaatkan kecerdasan buatan, analitik data, dan inovasi digital untuk mendukung pembelajaran, penelitian, serta pelayanan publik yang lebih berkualitas.

Jejak digitalisasi yang sedang dibangun Untad hari ini sesungguhnya adalah investasi jangka panjang. Mungkin hasilnya tidak seluruhnya terlihat dalam waktu singkat. Namun sejarah menunjukkan bahwa institusi besar selalu dibangun melalui langkah-langkah visioner yang dilakukan secara konsisten.

Masa depan pendidikan tinggi akan sangat ditenukan oleh pemanfaatan kecerdasan buata, analitik data, dan teknologi digital lainnya. Pakar pendidikan, Andrew NG bahkan menyebut kecerdasan buatan sebagai listrik baru yang akan menggerakan hampir seluruh kehidupan. Karena itu, pengembangan ONE KLIK pada masa mendatang harus dipandang sebagai fondasi menuju smart university yang berbasis data dan inovasi.

Ketika ONE KLIKS mulai digunakan oleh seluruh sivitas akademika, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya sebuah sistem aplikasi. Yang sedang dibangun adalah fondasi masa depan. Fondasi bagi universitas yang lebih tangguh menghadapi perubahan, lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi, lebih unggul dalam menghasilkan inovasi, dan lebih siap bersaing pada tingkat global.

Karena pada akhirnya, universitas yang hebat bukanlah universitas yang sekadar mengikuti zaman, melainkan universitas yang mampu memimpin perubahan zaman. Dan setiap perubahan besar selalu dimulai dari satu langkah kecil yang dilakukan dengan keyakinan besar.

ONE KLIKS adalah salah satu langkah strategis dan jitu. Sebuah jejak digital yang menandai perjalanan Universitas Tadulako menuju universitas unggul dan berkelas dunia. Semoga sejarah itu segera terwujud.

*) Rektor Universitas Tadulako

Komentar