JEJAK UNIVERSITAS MEMBANGUN PERADABAN

Headline, Opini888 Dilihat

SUPARMAN *)

UNIVERSITAS adalah mesin halus yang membentuk peradaban. Tidak bising seperti mesin-mesin pabrik, tidak kasatmata seperti bangunan-bangunan megah di kota-kota, tetapi bekerja dalam senyap di ruang-ruang kuliah, gedung perpustakaan, laboratorium, dan diskusi-diskusi kecil antara dosen dan mahasiswa.

Percakapan antara dosen dan dosen, bahkan debat antara sivitas akademika dan masyarakat. Di situlah masa depan bangsa dipertaruhkan, bukan pada semboyan politik sesaat, melainkan pada kualitas pikiran yang diperdebatan, kedalaman nurani yang terus diuji. Bahkan, ketangguhan karakter manusia yang terus ditempa oleh kampus.

Bangsa Indonesia, dengan segala keragaman dan tantangan zaman, memiliki modal intelektual yang besar melalui perguruan tinggi yang tersebar dari ujunga Barat hingga ujung Timur.

Dalam sunyi, kami mengemban jejak dan misi intelektual (8-11 Desember 2025), untuk menapaki langkah menimbah pengalaman, bertemu untuk belajar, bertukar ide dan gagasan ke Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Negeri Semarang (Unnes), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), hingga ke Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta.  

Misi mulianya ingin melihat masa depan Universitas Tadulako (Untad), berdiri sejajar dalam menata dan membangun masa depan bangsa. Untad sebagai satu dari sekian mesin dalam membentuk peradaban.

Di antara raksasa-raksasa akademik itu, Undip, Unnes, UNY, dan UNS. Untad juga hadir sebagai institusi yang tidak hanya mencetak gelar, tetapi juga menumbuhkan peradaban. Masing-masing membawa mandat sejarah, identitas keilmuan, serta nilai-nilai yang memperkaya ekosistem pengetahuan.

Kita telah memasuki abad ke-21 dengan perubahan iklim yang mengancam, revolusi digital yang mengubah pola hidup, tekanan demografis yang menuntut adaptasi cepat, dan polarisasi sosial yang menggerus ruang dialog.

Dalam konteks seperti ini, universitas bukan sekadar tempat belajar, tetapi harus menjadi benteng moral, pusat inovasi, dan penjaga nurani bangsa.

Nelson Mandela (1994) pernah mengatakan, Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia.

Universitas-lah yang mengasah senjata itu, agar tidak boleh tumpul karena birokrasi, tidak bengkok karena kepentingan ekonomi sesaat, dan tidak patah karena tekanan politik.

MARTABAT DAN KEMANFAATAN

Undip membawa visi yang kuat: universitas bermartabat dan bermanfaat. Dua kata penting ini tidak mudah dijalankan, tetapi menjadi inti dari eksistensi pendidikan tinggi.

Martabat dalam kerangka Undip, berarti menjaga integritas ilmu, kejujuran akademik, dan pengabdian pada kepentingan publik.

Sementara manfaat berarti riset dan inovasi harus kembali kepada rakyat.

Riset Undip tentang ketahanan pesisir, konservasi mangrove, pengelolaan wilayah pesisir, hingga ekonomi biru bukan hanya publikasi akademik, tetapi telah memberi dampak nyata pada kebijakan daerah.

Ketika riset teknologi kesehatan mereka diadopsi rumah sakit-rumah sakit daerah, ketika kajian tata ruang menjadi rujukan pemerintah daerah untuk mencegah bencana ekologis, Undip membuktikan bahwa universitas dapat dan harus menjadi agen pemuliaan hidup masyarakat.

John Dewey (1916) menegaskan, Pendidikan bukan persiapan untuk hidup, tetapi pendidikan adalah kehidupan itu sendiri. Di Undip, kehidupan itu dihadirkan melalui riset yang membangkitkan harapan, bukan sekadar memenuhi indeks publikasi.

Undip menunjukkan bahwa universitas bermartabat adalah universitas yang tidak membiarkan ilmu kehilangan relevansi sosialnya.  

Pendidikan dan penelitian sebagai jembatan antara ide dan realitas, antara teori dan kebutuhan masyarakat. Ilmu yang terhormat dan tertinggi adalah ilmu yang menyentuh manusia.

KONSERVASI SEBAGAI STRATEGI PERADABAN

Konservasi bukan sekadar gerakan hijau, apalagi hanya sekadar meminimalkan sampah. Dalam visi Unnes, sebagai Universitas Konservasi, konservasi menjadi strategi kebudayaan.

Kampus  merawat lingkungan fisik, tetapi juga merawat lingkungan non-fisik, ada memori, identitas, bahasa, tradisi, hingga nilai etika dan moral.

Dalam pusaran globalisasai yang serba cepat, instan, dan digitalisasi, Unnes terus menyadarkan kita semua, ada misi yang esensial terus harus dijaga dan dirawat. Ada harmoni antara manusia dengan alam, ada kesinambungan budaya, dan ada kesadaran bahwa pembangunan tanpa nilai, akan kehilangan makna.

Ruang konservasi adalah perlawanan mulia atas modernitas yang cenderung menghapus ruang refleksi. Jejak sejarah dan peradaban tak boleh hilang, karena adanya modernisasi yang kebablasan dan tak bermoral.

Unnes menggabungkan ilmu modern dengan kearifan tradisional. Kurikulum dan riset mereka berdiri di antara dua dunia: dunia akademik global dan dunia lokal Jawa yang kaya tradisi. Dengan riset berbasis komunitas, Unnes hadir di desa-desa, di ladang-ladang, di hutan-hutan, mengubah konservasi dari slogan menjadi laku hidup.

Konservasi adalah politik masa depan, bukan nostalgia masa lalu. Ketika dunia dihantam krisis iklim, Unnes sudah berada di garda depan, menawarkan paradigma peradaban yang lebih lembut, lebih bijaksana, lebih tahan lama.

PENDIDIKAN TRANSFORMATIF

Pendidikan sering dianggap proses mengisi kepala semata. UNY justru memutarbalikkan anggapan itu: pendidikan adalah menyalakan api.

Pendidikan tidak hanya mengembangkan keterampilan, tetapi mengasah sensitivitas moral, kemampuan refleksi kritis, dan daya cipta inovatif. Sebagai kampus kependidikan, UNY memikul peran penting: mencetak guru-guru masa depan, pembaharu yang akan mempengaruhi jutaan siswa di seluruh penjuru negeri.

Guru adalah arsitek karakter, dan universitas kependidikan adalah tempat karakter itu ditempa. Maka, tak boleh ada ruang pembaharu yang luput dalam investasi peradaban.

Paulo Freire (1970) mengingatkan, Pendidikan sejati adalah pendidikan yang membebaskan manusia. Membebaskan dari ketakutan berpikir, dari ketidakadilan struktural, dari keterbatasan diri dan keterbelakangan.

UNY menempatkan guru sebagai agen perubahan sosial. Di era kecerdasan buatan, big data, dan disrupsi digital, UNY memperkuat kompetensi pedagogik yang humanistik.

Mereka menolak gagasan bahwa teknologi harus menggantikan manusia, mereka justru mengajarkan bagaimana manusia mengendalikan teknologi untuk tujuan kemanusiaan.

UNY adalah pengingat: peradaban dibangun bukan oleh mesin, melainkan oleh manusia terdidik yang memiliki empati.

GLOBALITAS BERAKAR NUSANTARA

Dalam era digitas, dimana kampus dituntut menjadi pemain utama di kancah internasional: berjejaring, berkolaborasi, dan berkompetisi. Namun, putaran globalisasi membawa ancaman bagi identitas lokal (baca nasional).

UNS harus mengantisipasi tantangan dan ancaman itu melalui visi: berwawasan dunia, berkarakter Nusantara. Wawasan dunia berarti berpikir luas, terus menerus mengikuti perkembangan dialektika ilmu pengetahuan global, bekerja sama dengan universitas top-top dunia. Namun, UNS harus tetap berkarakter Nusantara, memastikan bahwa universitas tidak boleh kehilangan akar etisnya: gotong royong, kesantunan, solidaritas, dan toleransi. Nilai yang hidup dalam ruang kampus yang egaliter.

UNS memahami bahwa identitas bukan beban, melainkan kompas. Peradaban yang baik adalah peradaban yang mampu berdialog dengan dunia tanpa kehilangan dirinya sendiri. Dalam kolaborasi internasional mereka, UNS tidak hanya belajar, tetapi juga mengajarkan. UNS membawa misi nilai Nusantara harus berada di panggung dunia.  Nilai yang memperkaya percakapan global tentang etika, keberlanjutan, dan kemanusiaan itu sendiri. Globalitas tanpa akar adalah angin. Akar tanpa globalitas adalah stagnasi. UNS menjaga dan menghadirkan keseimbangan dua unsur itu secara elegan dan adem. UNS mengingatkan kita, tidak terombang-ambing globalisasi karena semua dapat dikendalikan.

BERWAWASAN LINGKUNGAN DAN GLOBAL

Universitas Tadulako hadir membawa mandat yang krusial. Kami mengusulkan untuk mempertajam visi pada ide dan gagasan: Universitas Berwawasan Lingkungan dan Global. Di Sulawesi Tengah, sebagai wilayah yang rawan gempa, tsunami, dan kerusakan ekologis, Untad berdiri pada persimpangan: dunia lokal yang sangat spesifik, dan dunia global yang saling terhubung. Untad harus memainkan peran penting ini dalam kancah nasional dan global.

Posisi geografis strategis, dimana Untad berada di jantung Pulau Sulawesi sebagai ring of fire. Menjadikannya universitas yang tidak dapat mengabaikan lingkungan.

Ketika perubahan iklim mengubah musim, ketika bencana alam merusak tatanan kehidupan, ketika ketahanan pangan terancam, Untad berada di garda depan pengetahuan. Menutun Untad mengajar dan mendidik, bukan hanya tentang ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi tentang tentang kehidupan dengan alam dan lingkungan.

Ketika Untad merumuskan riset lintas disiplin, ekologi, teknologi, kebijakan publik, ekonomi sumber daya dan mengaitkannya dengan jejaring global, maka esensi kelahirannya sebagai universitas yang tidak hanya mempelajari lingkungan an sich, tetapi membentuk solusi bagi lingkungan.

Berpikir global memberi perspektif, berwawasan lingkungan memberi akar realitas. Untad menjahit kedua dunia itu menjadi satu kekuatan peradaban. Pada posisi seperti itu, Untad tidak hanya menjadi follower tetap leader.

AGENDA PERADABAN ABAD KE-21

Kita kembali merenung, apa yang diingatkan, Maria Montessori (1936), Tugas pendidikan bukan mengisi pikiran anak, tetapi menyalakan apinya. Dan api peradaban hanya bisa menyala jika ilmu, nilai, dan pengalaman hidup dirangkai dalam harmoni.

Tentu saja untuk menjawab tantangan peradaban global, maka universitas harus menjalankan agenda prioritas: pertama, Riset berdampak publik. Universitas tidak hanya dibebani dengan mengejar angka sitasi semata, tetapi perubahan nyata bagi masyarakat. Kedua, Kurikulum yang adaptif dan reflektif. Semestinya kampus terus meningkatkan dan memperkuat literasi digital, ekologi, nilai moral, dan kesadaran global. Ketiga, Kemitraan multi-sektor.

Universitas harus keluar dari menara gading dan masuk ke dunia nyata. Keempat, Penguatan kapasitas lokal. Universitas harus membawa pengetahuan global dan meneterjemahkan ke dalam konteks lokal. Kelima, Jejaring global setara. Universitas harus mampu menjadi mitra dunia, bukan penonton. Terakhir, Integritas akademik absolut. Universitas  terus berkomitmen bahwa tanpa kejujuran, tak ada peradaban. Titik krusial ini menjadi pondasi dasar dalam meletakan seluruh instrumen membangun peradaban.

Kita semua, apakah itu dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, dan alumni adalah arsitek peradaban.

Mereka bukan hanya penghuni kampus, tetapi penjaga nilai dan pemikul tanggung jawab moral. Kampus harus menjadi ruang di mana suara marginal didengar, kesalahan diperbaiki, dan kebenaran dibela. Bentuk-bentuk ketidakjujuran harus dikubur dalam-dalam.

Universitas adalah rumah nalar. Ketika dunia dipenuhi informasi palsu (hoaks), kampus harus menjadi mercusuar. Ketika dunia dipenuhi polarisasi, kampus harus menjadi ruang dialog yang demokratis. Ketika dunia kehilangan arah moral, kampus harus menjadi episentrum.

MENYATUKAN LANGKAH, MENJAGA ARAH

Indonesia membutuhkan lebih dari universitas unggul; ia membutuhkan persekutuan universitas pembangun peradaban. Jejak pemikiran yang kami bawa dari Undip mengajarkan martabat, Unnes mengajarkan kelestarian, UNY mengajarkan pembebasan, dan UNS mengajarkan keseimbangan global.

Dari semua itu, kita belajar membawa Untad untuk mengajarkan kesadaran ekologis berpadu globalitas. Dengan keyakinan atas kerja-kerja universitas itu, maka Indonesia dapat membangun peradaban yang bukan hanya besar, tetapi juga arif dan bijaksana.

Peradaban yang tidak hanya modern, tetapi juga manusiawi dan memanusiakan. Peradaban harus dibangun bukan oleh hanya satu kali lompatan besar, tetapi oleh jutaan keputusan yang konsisten dan bermilyar langkah,  tentang apa yang kita mesti ajarkan, apa yang harus kita teliti, apa yang patut kita jaga, dan apa yang kita wajib tinggalkan bagi generasi mendatang.

Bangsa ini memerlukan kampus-kampus yang terus menjadi cahaya dan membawa obor kebenaran. Terang untuk pengetahuan, hangat untuk kemanusiaan, dan teguh untuk masa depan.

*) Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tadulako

Komentar