Dr. H. Suaib Djafar, M.Si, Maestro Budayawan Kaili
DALAM kebudayaan Kaili, kesejahteraan tidak hanya diukur dari banyaknya harta benda, tetapi dari terpenuhinya kebutuhan hidup secara lahir dan batin.
Totua,pangulu Nto Kaili mewariskan nilai-nilai luhur melalui ungkapan bijak yang menggambarkan kehidupan yang ideal, harmonis, dan bermartabat.
Ungkapan tersebut menjadi pedoman hidup agar setiap individu mampu hidup sejahtera bersama keluarga dan masyarakat.
1. Mabosu Tai (Cukup Pangan)
Mabosu Tai bermakna tersedianya pangan yang cukup bagi seluruh anggota keluarga. Kecukupan pangan merupakan simbol keberhasilan bekerja, memanfaatkan alam secara bijaksana, serta wujud rasa syukur kepada Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada kesejahteraan tanpa ketahanan pangan.
2. Manapa (Cukup Sandang)
Manapa mengandung makna terpenuhinya kebutuhan sandang Pakaian yang layak sebagai lambang kehormatan, kesopanan, dan martabat manusia. Sandang yang cukup dan layak mencerminkan kehidupan yang tertata, beradab, dan sejahtera.
3. Maulu balengga (Memiliki Rumah yang Layak)
Rumah merupakan tempat berlindung sekaligus pusat pembinaan keluarga. Maulu Balengga melambangkan keamanan, kenyamanan, serta harapan agar setiap keluarga memiliki tempat tinggal yang menjadi sumber kasih sayang, pendidikan, dan pelestarian nilai-nilai budaya.
4. Makaa Buku (Berbadan Sehat)
Kesehatan adalah modal utama dalam bekerja dan berkarya. Makaa Buku mengajarkan bahwa tubuh yang sehat memungkinkan seseorang mencari nafkah, mengabdi kepada masyarakat, dan menjalankan kehidupan dengan penuh semangat.
5. Mapiri Mata (Tidur Nyenyak)
Tidur yang nyenyak menjadi simbol ketenangan hati, bebas dari rasa takut, utang yang memberatkan, maupun persoalan yang mengganggu kehidupan. Ketenangan batin merupakan bagian penting dari kesejahteraan sejati.
6. Malino Talinga (Aman dan Damai)
Malino Talinga bermakna hidup dalam suasana aman damai, tenteram, dan saling menghormati. Kehidupan masyarakat yang aman menciptakan ruang bagi pembangunan, pendidikan, ekonomi, serta pelestarian adat dan budaya.
7. Mareme Panggita (Terang Penglihatan, Rezeki Mengalir Lancar)
Ungkapan ini melambangkan terbukanya jalan kehidupan, kejernihan berpikir, kemudahan memperoleh rezeki yang halal, serta kemampuan melihat peluang untuk meningkatkan kesejahteraan. Rezeki yang mengalir bukan sekadar materi, tetapi juga keberkahan, kesehatan, dan kebahagiaan.
Ketujuh ungkapan bijak masyarakat Kaili tersebut menggambarkan konsep kesejahteraan yang utuh: kebutuhan pangan dan sandang terpenuhi, memiliki rumah yang layak, tubuh yang sehat, hati yang tenteram, hidup aman dan damai, serta memperoleh rezeki yang halal dan berlimpah.
Nilai-nilai ini merupakan warisan budaya yang tetap relevan sebagai landasan pembangunan masyarakat menuju kehidupan yang adil, makmur, berbudaya, dan selaras dengan semangat Mosangu Morambanga, Mombangu Ngata dalam mewujudkan Sulteng Nambaso**
