Dr. H. Suaib Djafar, M.Si, Maestro Budayawan Kaili
DALAM masyarakat Kaili, terdapat sebuah nilai luhur yang diwariskan turun-temurun, yaitu Nolunu, yang berarti gotong royong.
Nolunu bukan sekadar bekerja bersama, tetapi merupakan sistem sosial yang lahir dari Libu (musyawarah) yang menghasilkan Sintuvu (kesepakatan). Melalui musyawarah, setiap anggota masyarakat memahami tugas, tanggung jawab, hak, dan kewajibannya demi mencapai kesejahteraan bersama.
Nolunu menjadi fondasi kehidupan masyarakat agraris Kaili. Semua pekerjaan dilakukan secara terorganisasi sesuai keahlian dan kebutuhan, sehingga pekerjaan berat menjadi ringan, hubungan persaudaraan semakin erat, dan hasilnya dapat dinikmati bersama.
Nilai ini mencerminkan filosofi hidup bahwa keberhasilan bukanlah hasil kerja individu semata, melainkan buah dari persatuan, saling percaya, dan saling membantu.
Cabang-cabang kegiatan dalam organisasi sosial Nolunu antara lain:
1.Noevu, yaitu kelompok penggembala dan pemelihara ternak besar maupun kecil yang bertanggung jawab menjaga keberlangsungan peternakan masyarakat.
2.Nosidondo, yaitu kelompok gotong royong yang bekerja mulai pukul 06.00 hingga 11.00. Para pekerja cukup disuguhi makanan ringan (snek) sebagai bentuk penghargaan atas semangat kebersamaan.
3.Nosialapale, yaitu kelompok kerja sama yang mengelola sawah, ladang, atau pekerjaan lainnya selama sehari penuh. Anggota memperoleh makanan ringan dan makan bersama sebagai lambang persaudaraan.
4.Noteba, yaitu kelompok pencari dan pengolah kayu untuk bahan bangunan rumah adat maupun rumah tinggal yang dipimpin oleh seorang Pande (tukang) yang memiliki keahlian.
5.Nobuso, yaitu kelompok gotong royong yang membuat berbagai peralatan pertanian seperti pacul, parang, cangkul, dan alat kerja lainnya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
6.Noasu, yaitu kelompok pemburu rusa yang bekerja secara bersama-sama dengan bantuan anjing pemburu (asu) dan tombak berkait (kanjai).
Kegiatan ini dilakukan secara arif dengan tetap menjaga keseimbangan alam dan keberlanjutan sumber daya.Keseluruhan sistem Nolunu menunjukkan betapa tingginya peradaban masyarakat Kaili dalam membangun kehidupan yang harmonis.
Kebersamaan tidak hanya tampak saat bekerja, tetapi juga ketika menikmati hasil, saling berbagi rezeki, menjaga kelestarian lingkungan, dan memperkuat ikatan persaudaraan. Nilai luhur ini sangat relevan untuk pembangunan masa kini karena mengajarkan pentingnya partisipasi masyarakat, keadilan sosial, pelestarian alam, dan kesejahteraan bersama.
Semangat Mosangu Morambanga, Mosipatuju Mombangu Ngata mengandung pesan bahwa bersatu, bergandengan tangan, saling mendukung, dan bekerja dengan satu tujuan merupakan jalan terbaik untuk membangun negeri yang maju, lestari, dan sejahtera.
Tevaintotuata :”Libu Mopakasalama, Sintuvu Mopakatantu, Nolunu Mompakavoe Ngata. “Artinya: Musyawarah melahirkan keselamatan, kesepakatan melahirkan kepastian, dan gotong royong membawa kemajuan serta kesejahteraan bagi negeri dan seluruh masyarakat.**
