Ngopi Bersama FKUB, Anwar Hafid: Kemajuan Daerah Harus Berpijak pada Nilai Spiritual dan Toleransi

Headline, Sulteng53 Dilihat

PALU, Sulteng Today – Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, menghadiri langsung acara Ngobrol Pintar (NGOPI) bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah di Circle Coffee Palu, Jumat, 15 Mei 2026.

Hadir di acara ini antara lain Ketua FKUB Sulteng Prof. Dr. Zainal Abidin, para pemangku adat, tokoh agama, serta sejumlah pemuka lintas agama di Sulawesi Tengah.

Di momen ini, Gubernur Anwar Hafid berbicara tentang pentingnya nilai spiritual dan toleransi dalam membangun daerah.

Sejak awal memimpin di Kabupaten Morowali, Anwar Hafid mengaku terus mendorong pembangunan daerah, dengan memanfaatkan energi kepemimpinan, jaringan, dan berbagai potensi yang dimiliki. Namun, di tengah berbagai kemajuan pembangunan yang berjalan, ia merasa perlu menghadirkan pendekatan lain yang lebih menyentuh kehidupan masyarakat secara mendalam.

“Waktu itu saya mulai berpikir mungkin ada yang salah dari cara kita membangun. Saya kemudian belajar lagi dan melihat bahwa pembangunan tidak cukup hanya fisik. Harus ada landasan spiritual yang hadir di tengah masyarakat,” ujar Anwar Hafid.

Pemikiran itulah yang kemudian melahirkan program Morowali Berjamaah dan Morowali Mengaji pada 2014. Ia mengaku sengaja melibatkan seluruh tokoh lintas agama, mulai dari ustaz, pendeta hingga pemangku adat untuk memperkuat kehidupan spiritual masyarakat.

Menurutnya, perubahan mulai terasa setelah nilai-nilai spiritual diperkuat dalam kehidupan sosial masyarakat. Ia menilai suasana religius mampu menghadirkan rasa damai, memperkuat kebersamaan, sekaligus menciptakan stabilitas sosial yang berdampak pada masuknya investasi ke Morowali.

Pengalaman tersebut kemudian menarik perhatian banyak pihak, termasuk kalangan akademisi internasional.

Anwar Hafid menceritakan, pernah diundang berbicara di hadapan perwakilan 28 negara, dalam forum di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (UGM). Di forum tersebut ia membahas hubungan antara landasan spiritual dan pembangunan bangsa.

“Semua sepakat bahwa negara yang ingin maju harus menjadikan nilai spiritual sebagai landasan utama. Bahkan ada rekomendasi agar nilai spiritual diinternalisasi dalam sistem pemerintahan,” katanya.

Waktu itu, ia juga mendapat undangan dari Jepang dan Thailand untuk mendalami konsep tersebut.

Menurutnya, sejumlah negara maju telah memadukan pembangunan dengan nilai budaya dan spiritual dalam sistem kehidupan masyarakat maupun pemerintahan.

Dalam kesempatan itu, gubernur menegaskan bahwa toleransi di Indonesia merupakan warisan besar para pendiri bangsa.

Ia menyinggung proses lahirnya Pancasila dan Piagam Jakarta yang menurutnya menjadi bukti besarnya semangat saling menghargai demi menjaga persatuan Indonesia.

“Tokoh-tokoh dahulu mungkin tidak secanggih kita sekarang, tapi toleransinya luar biasa. Mereka berpikir jauh ke depan bahwa Indonesia hanya akan maju kalau toleransi dijaga,” ujarnya.

Karena itu, ia mendorong seluruh umat beragama untuk kembali meramaikan rumah-rumah ibadah.

Menurutnya, masjid, gereja, pura, dan tempat ibadah lainnya tidak hanya berfungsi sebagai bangunan simbolik, tetapi menjadi pusat pembinaan moral dan penguatan kehidupan sosial masyarakat.

Gubernur menilai suasana keagamaan yang hidup akan memperkuat ketertiban dan mencegah munculnya provokasi di tengah masyarakat.

Ia mencontohkan suasana ibadah berjamaah yang menurutnya mampu menghadirkan ketenangan dan keteraturan meski dihadiri ribuan orang.

“Kalau rumah ibadah ramai dengan jamaah, jemaat dan umat, siapa yang berani masuk memprovokasi? Nilai spiritual itu menghadirkan rasa damai dan rasa aman,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa pembangunan fisik semata tidak akan cukup tanpa pembangunan moral masyarakat.

Menurutnya, rumah ibadah yang megah tidak memiliki makna apabila tidak diisi dengan pembinaan umat dan kehidupan spiritual yang kuat.

Dalam dialog itu, gubernur turut menjelaskan visi Berani Berkah yang kini menjadi salah satu pendekatan pembangunan di Sulawesi Tengah.

Ia meyakini kesejahteraan dan keamanan hanya dapat tercapai apabila nilai spiritual hadir dalam kehidupan masyarakat.

Di akhir penyampaiannya, gubernur mengapresiasi FKUB Sulawesi Tengah yang dinilainya berhasil menjaga kerukunan antarumat beragama di daerah itu. Ia bahkan menyebut FKUB Sulteng kini mulai menjadi rujukan daerah lain.

“Beberapa hari lalu ada FKUB dari luar daerah datang khusus belajar ke Sulawesi Tengah. Ini menunjukkan kerukunan kita sudah dikenal luas,” pungkasnya.**

editor: moh. habil masri

Komentar