PALU, Sulteng Today – Tahun 2025 silam, Provinsi Sulawesi Tengah mendapat kucuran dana jumbo dari pemerintah pusat. Jumlahnya Rp412 miliar.
Dana tersebut digunakan membiayai program nasional, yang menjadi bagian Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Yakni pencetakan sawah baru seluas 10.180 hektar, untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.
Program ini dilaksanakan di 10 kabupaten di Sulteng, dengan leading sector Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Provinsi Sulteng.
Sayangnya, pelaksanaan program ini tidak sesuai ekspektasi. Realisasinya hanya 50,19 persen dan jumlah dana yang terserap hanya sekitar Rp135 miliar.
Di Kabupaten Donggala, rencana sawah baru yang akan dicetak seluas 977 hektar. Yang berhasil direalisasikan hanya 112 hektar atau 11,37 persen.
Kondisi paling mengecewakan terjadi di Kabupaten Banggai Laut. Di daerah yang dipimpin Bupati Sofyan Kaepa tersebut, realisasi program cetak sawah nol persen, dari target 150 hektar.
Pemerintah Kabupaten Sigi yang awalnya optimis bisa mengawal tuntas program nasional tersebut, juga tidak bisa berbuat banyak.
Program cetak sawah di daerah tersebut, hanya terealisasi 24,04 persen. Padahal telah direncanakan, sawah baru dicetak di Sigi seluas 1.200 hektar. Namun, realisasinya hanya 288,5 hektar.
Realisasi program cetak sawah di Kabupaten Buol, juga tidak sesuai harapan.
Daerah yang dipimpin Risharyudi Triwibowo itu mematok target percetakan sawah baru seluas 3.261 hektar. Tetapi, setelah dilakukan Survei, Investigasi dan Desain (SID) ternyata lahan yang tersedia hanya 3.028,4 hektar.
Dari jumlah tersebut, yang terealisasi hanya 33,02 persen atau setara dengan 1.000 hektar.
Khusus di Kabupaten Tolitoli dan Tojo Una-una proyek kebanggaan Presiden Prabowo ini terealisasi di atas 50 persen.
Di Tojo Una-una misalnya, target sawah baru yang tercetak seluas 1.889,45 hektar. Setelah dilakukan SID, lahan yang tersedia untuk dibuatkan sawah seluas 635 hektar.
Sayangnya, hingga pelaksanaan program berakhir Maret 2026, realisasi cetak sawah hanya 350 hektar atau 55,12 persen.
Hal yang sama juga terjadi di Kabupaten Tolitoli. Di daerah penghasil cingkeh itu direncanakan tercetak sawah baru di lahan seluas 160 hektar. Tetapi, setelah tim melakukan survei, ternyata lahan tersedia seluas 199 hektar, dan yang berhasil dijadikan sawah baru hanya seluas 110 hektar atau 55, 28 persen.
Proyek cetak sawah ini berhasil mencapai target hanya di empat kabupaten. Yakni, Kabupaten Parigi Moutong terealisasi 96,4 persen. Kemudian, Kabupaten Poso, Banggai dan Morowali Utara masing-masing terealisasi 100 persen.
Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian (Kabid PSP) Dinas TPH Provinsi Sulteng, Emilia yang dihubungi Sulteng Today melalui WhatsApp, Selasa, 19 Mei 2026, hingga Kamis, 21 Mei 2026 pukul 15.00 WITA belum memberi respons. Walau pesan yang dikirimkan wartawan media ini terdapat centang dua.
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (Kadis TPH) Provinsi Sulteng, Dodot Tinarso, S.Sos, M.T, yang dihubungi Sulteng Today, Selasa, 19 Mei 2026 membenarkan adanya kendala teknis, yang menyebabkan program nasional tersebut belum jalan optimal.
Kendala pertama adalah hasil Survei, Investigasi dan Desain (SID) tidak sesuai kondisi lapangan. Dia mencontohkan, sesuai hasil SID, di Kabupaten Sigi terdapat lahan seluas 1.200 hektar yang layak dijadikan sawah baru.
“Tetapi setelah dicek langsung di lokasi, lahan yang dimaksud masuk dalam kawasan hutan lindung. Otomatis tidak bisa dijadikan sawah. Begitu pula di wilayah lain. Lahan yang disebut tim yang melakukan SID layak, tetapi akses menuju lokasi tersebut sulit. Harus dibuatkan jalan terlebih dahulu. Sementara dana pembuatan jalan tidak tersedia dalam rencana anggaran biaya,” jelas mantan Kadis Perhubungan Kabupaten Sigi tersebut.
Terkait anggaran yang tidak terserap, Dodot menjelaskan, sekitar Rp270 miliar lebih dana program tersebut telah dikembalikan ke kas negara.
Program cetak sawah di sembilan kabupaten lanjut Dodot dikerjakan dengan sistem swakelola. Kecuali di Kabupaten Donggala. Cetak sawahnya dikerjakan pihak ketiga.
Lebih lanjut Dodot menambahkan, program cetak sawah di Sulteng akan tetap dilanjutkan. Kemungkinan besar, kelanjutan program ini dilaksanakan langsung oleh pihak jajaran kementerian.
Untuk diketahui, pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian RI memberikan perhatian khusus terhadap pelaksanaan program ini.
Bahkan, untuk memastikan program nasional ini berjalan tanpa kendala, Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian, Andi Nur Alamsyah, melakukan kunjungan kerja di Sulteng, Kamis, 24 Juli 2025 silam.
Ia bersilaturrahim dengan Gubernur Anwar Hafid di kediaman pribadinya, di Jalan Dr. Sam Ratulangi Palu, sekaligus melakukan koordinasi teknis terkait kesiapan daerah, dalam menyambut program cetak sawah.
Di kesempatan itu, Dirjen Andi Nur Alamsyah menyampaikan, Kementerian Pertanian menargetkan 6.000 hektar lahan sudah dapat dikontrakkan pada bulan Juli 2025. Dua bulan kemudian atau pada September 2025, sawah baru tersebut sudah bisa ditanami.
Selain memberikan dukungan pendanaan, pemerintah pusat menyediakan peralatan, dan mesin pertanian melalui Brigade Alsintan. Serta distribusi benih untuk mendukung keberhasilan musim tanam mendatang.
Gubernur Anwar Hafid menyambut baik pelaksanaan program tersebut. Bahkan, gubernur telah menyelaraskan program tersebut dengan agenda pembangunan daerah, termasuk melalui program Nawacita Berani.
Salah satu pilar utama dari program pencetakan sawah baru kata Anwar Hafid adalah “Berani Panen Raya” yang menargetkan peningkatan produktivitas hingga 6 ton/hektar.
Program cetak sawah kata Anwar Hafid sebagaimana dikutip Sulteng Today dari laman resmi Pemprov Sulteng, juga diperkuat oleh inisiatif Brigade Pertanian yang telah tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Sulawesi Tengah. **
editor: moh. habil masri







Komentar